Perempuan Tangguh

Ilustrasi/KBK

Hari masih gelap. Malam belum jua direnggut siang. Yana (48) sudah melakukan aktivitasnya. Pegal pun masih terasa menggerayangi badannya. Tengah malam tadi ia baru dapat tertidur, sedangkan pukul 3.00 dini hari, dirinya harus kembali memerankan peran sebagai ibu rumah tangga.

Layaknya ibu rumah tangga lain, Yana mulai membersihkan rumah dan menyiapkan makanan di dapur. Ia harus memastikan asupan makanan yang sehat untuk sarapan ketiga anaknya yang masih sekolah. “Bagaimanapun, sarapan harus selalu ada untuk anak-anak,” ujarnya.

Satu jam berlalu. Dari daster kini ia berganti kostum. Dengan seragam kebesarannya berwarna oranye, dan kain lusuh untuk dijadikan penutup mulut, ibu lima anak ini berganti peran menjadi pelayan masyarakat. Makanan sudah siap di meja, anak-anaknya masih terlelap. Tanpa berpamitan, hanya sekali mencium kening mereka, Yana bergegas ke tempat kerja di Gandaria sekitar kampus Universitas Satya Negara Indonesia(USNI).

Dengan cekatan tangannya mengayunkan sapu lidi. Berkawan dengan debu dan asap knalpot setiap hari. Sebagai tenaga honorer Dinas Kebersihan DKI, ia berkewajiban membersihkan sepanjang jalan Kebayoran Lama sampai Gandaria. Di jalan ini pula kenangan akan suaminya selalu terngiang. Pasalnya Sugianto, mendiang suami Yana juga berprofesi sebagai petugas kebersihan. Dulu setiap hari mereka bersama-sama bekerja di tempat itu. Sugianto meninggal akibat kanker paru-paru pada tahun 2002 silam.

Kini, Yana berjuang sendiri menghidupi tiga anaknya yang masih sekolah. Dua anaknya yang lain sudah menikah. Mereka hidup sederhana pula, tak beda jauh dengan keadaan Yana. Anak pertamanya hanya berprofesi sebagai petugas kemananan di sebuah perumahan. Sedangkan anak keduanya hanya menjadi seorang buruh pabrik. Yana tidak ingin menambah beban kedua anaknya. Oleh karenanya meski tak lagi muda, ia memutuskan untuk terus bekerja guna membiayai ketiga anaknya yang saat ini berada di bangku SMP dan SMK. “Saya tidak tega. Mereka juga hidupnya susah,” ucapnya.

***

Yana adalah potret perempuan tangguh yang ada di sekitar kita. Selain harus mengelola rumah tangga, ia juga harus “berkarir” di luar demi menghidupi keluarga dan anaknya. Tugas ganda ini sangat sulit, mungkin tidak semua perempuan bisa melakukannya.

Dahulu, perempuan memang identik dengan urusan domestik. Mencari nafkah di luar adalah tugas suami. Ada istilah yang menyederhanakan peran perempuan hanya dalam lingkungan “sumur-kasur-dapur”. Namun, seiring perubahan zaman, peranan perempuan semakin luas. Bahkan tak sedikit yang menempati posisi-posisi strategis dan jabatan publik.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal istri Nabi Muhammad, Khadijah sebagai saudagar ternama. Kita juga tak asing dengan Aisyah yang memiliki intelgensia tinggi. Sementara dalam sejarah Indonesia, sederet nama seperti Malahayati, Cut Nyak Dien, R.A Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan HR. Rasuna Said, telah membuktikan kepada kita bahwa kiprah mereka luar biasa.

Malahayati misalnya, ia pernah menjadi komandan Inong Balee dalam melawan penjajah. Atas keberanian dan keberhasilannya menumpas kapal-kapal penjajah ia mendapat gelar Laksamana. Demikian halnya dengan penerusnya, pahlawan Aceh terpopuler, Cut Nyak Dien. Ia juga sangat gigih melawan kompeni Belanda. Sementara R.A Kartini, Rohana Kudus, HR Rasuna Said, meneguhkan dedikasinya untuk bangsa ini melalui pemikiran, gagasan, dan perjuangan pendidikan bagi kaum perempuan.

Di masa kini, kita juga mengenal sosok-sosok hebat perempuan di sekitar kita. Siapa yang tak mengenal Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Risma adalah perempuan pertama yang terpilih sebagai Wali Kota Surabaya sepanjang sejarah. Risma juga tercatat sebagai wanita pertama yang dipilih langsung menjadi wali kota melalui pemilihan kepala daerah sepanjang sejarah demokrasi Indonesia di era reformasi. Risma merupakan kepala daerah perempuan pertama di Indonesia yang berulang kali masuk dalam daftar pemimpin terbaik dunia.

Selain Risma yang sangat populer, kita juga mengenal Septi Peni Wulandari. Ibu tiga anak ini ini pernah menyabet berbagai penghargaan, seperti Danamon Award, Ashoka, dan Kartini Award. Ia menamakan dirinya seorang ibu rumah tangga profesional. Septi Peni merupakan penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang concern dengan isu keluarga dan pendidikan anak atau parenting.

Posisi perempuan memang istimewa. Dalam Islam, sebagai seorang ibu maupun istri, posisinya derajatnya sangat mulia. Banyak sekali hadis yang menujukkan kemuliaan seorang wanita. Paling masyhur kita sering mendengar “Surga terletak di bawah kaki ibu.” Hadis lainnya menyebutkan, “Perempuan apabila salat lima waktu, puasa pada bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat pada suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.” Serta banyak lagi hadis lainnya.

Bukan tanpa alasan, Grameen Bank di Bangladesh mengutamakan nasabahnya dari kalangan perempuan. Dari 6.6 juta orang anggota Grameen Bank (2006), 94 persennya adalah wanita. Pilihan wanita untuk menjadi nasabah Grameen Bank didasarkan pada pemikiran, bahwa tanggung jawab wanita terhadap keluarga biasanya lebih besar. Selain itu, wanita dianggap lebih bertanggung jawab dalam mengelola keuangan keluarga. Secara psikologis, seorang wanita cenderung mengutamakan kepentingan keluarga saat membelanjakan uangnya.

Ada ungkapan yang juga sangat populer, “di balik kesuksesan seorang pria, ada sosok perempuan hebat di belakangnya.” Peran wanita dalam mendukung pria hingga menjadi sukses sangat penting. Banyak pria yang telah sukses dan terkenal di dunia mengakui bahwa faktor terbesar kesuksesan mereka karena memiliki istri yang tepat dan hebat, sehingga mampu melewati setiap tantangan dalam perjuangan karir mereka. Presiden RI ke-3 B.J Habibie kerap menukil kalimat ini. dalam bukunya “Habibie & Ainun”, ia menyebut seorang ibu dan istri berperan besar dalam setiap kesuksesan yang diraihnya.

Tokoh muslim terkemuka, Adian Husaini pernah mewanti-wanti agar kita tidak menyepelekan peran “Dapur-Sumur-Kasur” yang selama ini melekat pada wanita. Urusan “dapur” erat kaitannya dengan ilmu gizi. Anak-anak yang terpenuhi gizinya akan memiliki inteljensia yang tinggi. Demikian halnya dengan urusan “sumur” yang merepresentasikan kebersihan. Keluarga akan hidup sehat dan sejahtera ketika rumah tangganya bersih—dalam arti yang luas.

Lalu bagaimana dengan “kasur”? Kasur bisa merepresentasikan kesehatan. Artinya, kaum perempuan, khususnya ibu memiliki peran yang sangat besar terhadap kesehatan keluarga. Jika suami sehat, ia mampu mencari nafkah dengan maksimal. Saat anak-anaknya sehat, mereka dapat berkembang dengan optimal. Demikian pula jika sang ibu selalu sehat, ia bisa beraktualisasi dan memainkan peranannya dengan baik. [Virga Agesta-Amir Hasan]