Akselerasi Pengentasan Kemiskinan melalui M3

Foto: Dompet Dhuafa

Setitik cahaya kekuningan nampak bergoyang-goyang di tengah laut. Cahaya itu berasal dari lampu minyak sebuah perahu tradisional milik nelayan. Mereka sedang menuju bagan kerang hijau mereka. Subuh hari, di Teluk Banten pemandangannya memang masih gelap gulita. Bahkan karang yang dapat mengaramkan perahu tak tampak oleh mata.

Hanya bermodalkan insting, empat orang peternak kerang hijau berangkat ke tengah laut untuk panen kerang hijau yang sudah mereka ternak beberapa minggu sebelumnya. Dengan membaca gelombang arus, mereka dapat mengetahui letak karang yang dapat membahayakan keselamatan. Salah perhitungan sedikit, maka karamlah perahu yang mereka tumpangi.

Subuh hari adalah waktu yang tepat untuk memanen kerang hijau. Ombak yang tidak terlalu besar sangat membantu mereka. Itu sebabnya para peternak kerang hijau mulai angkat jangkar dari pelabuhan di kawasan Kampung Rujak Beling Rt 17/03 Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Serang, Banten selepas adzan subuh berkumandang.

Sesampainya di bagan, dua sampai tiga orang bertugas menyelam ke laut untuk mengambil kerang hijau yang sudah dapat dipanen. Menggunakan alat seadanya, mereka menyelam ke dalam laut dengan kedalaman lima hingga enam meter. Menyelam, naik ke permukaan, dan kemudian menyelam kembali.

Aktivitas itu dilakukan berulang-ulang selama lebih dari tiga jam. Kurang lebih pukul sembilan pagi, beberapa ember penampung kerang hijau mulai penuh terisi. Tak lama kemudian, keempat orang tersebut mumutuskan untuk kembali ke daratan.

Semilir angin meniup badan mereka yang basah di sepanjang perjalanan pulang. Hasil panen yang cukup banyak seakan mengalihkan rasa dingin yang menggerayangi tubuh mereka. Berharap hasil tangkapan kerang hijau hari ini dapat dijual dengan harga yang cukup memuaskan.

Namun apa daya, harapan mereka harus kandas di tangan penjual kerang pasar. Proses pengupasan cangkang kerang yang mereka lakukan masih kurang baik. Sehingga kualitasnya tidak bagus dan sedikit kotor. Akibatnya pedagang kerang di pasar tidak berani membeli kerang mereka dengan harga tinggi.

Hanya berkisar Rp900 ribu yang mereka dapati dari tangan penjual kerang hijau di pasar. Itu pun belum termasuk modal untuk membeli solar sebagai bahan bakar perahu yang mereka gunakan pagi tadi. Setidaknya Rp 600 ribu keuntungan bersih dikantongi, dan kemudian dibagi rata. Al hasil, tiga lembar uang bergambarkan I Gusti Ngurah Rai dikantongi masing-masing peternak kerang hijau tersebut setelah setengah hari mempertaruhkan nyawa di tengah laut.

Dengan jerih payah yang amat besar, mereka seharusnya mendapatkan penghasilan yang besar. Sesuai dengan keselamatan yang mereka pertaruhkan setiap bekerja. Kenyataannya, peternak kerang hijau masih belum dapat dikatakan berpenghasilan cukup.

Berangkat dari kondisi ini, Dompet Dhuafa hadir dengan program Mustahik Move to Muzaki (M3) di Kampung Rujak Beling, Serang 2015 lalu. Tujuan dari program tersebut adalah untuk meningkatkan penghasilan para peternak kerang hijau di sana.

Livson Zulkah (32), Pendamping Program M3 mengatakan, sebanyak 90 unit bagan diberikan untuk peternak kerang hijau di Kampung Rujak Beling. Bagan tersebut dibuat ditengah laut teluk Banten. “Ada 30 penerima manfaat. Jadi masing-masing penerima manfaat dikasih tiga bagan,” jelasnya.

Livson menambahkan, produksi kerang hijau meningkat secara drastis. Dalam sekali panen, satu unit dapat menghasilkan lima ton kerang. Selain itu pengelolaan kerang hijau pun menjadi lebih profesional berkat adanya program pendampingan M3.

Diakui Livson, sebelumnya peternak melakukan kupas cangkang kerang hijau dengan alat dan wadah seadanya di atas lantai dari semen. Sehingga kualitas daging kerang kurang bagus dan tidak higienis. Pada tahun 2015, DD memberikan pinjaman modal yang salah satunya digunakan untuk membuat rumah kupas. Di dalam rumah kupas tersebut tersedia alat-alat kupas cangkang kerang dan air bersih, serta diberikan keramik sebawai wadah bersih saat pengupasan cangkang kerang dilaksanakan.

“Bersyukur dengan adanya bantuan dari Dompet Dhuafa. Kini pendapatan naik, setiap panen per unitnya bisa dapat Rp 5-6 juta. Pengolahan pun didampingi dari tradisional sampai professional,” pungkasnya.

Satu lagi peran Dompet Dhuafa sebagai lembaga kemanusiaan yang berbasis zakat telah berhasil mengentaskan kemiskinan suatu masyarakat. Secara ekonomi, masyarakat Kampung Kampung Rujak Beling Rt 17/03 Kelurahan Margaluyu, Kecamatan Kasemen, Serang, Banten sudah dapat dikatakan mandiri. Dengan kata lain, warga yang kebanyakan berprofesi sebagai peternak kerang hijau tersebut yang dulunya merupakan mustahik, kini sudah dapat menjadi muzaki.

“Harapan saya kedepannya pemasaran jadi lebih baik. Saat ini produksi sudah meningkat, kualitas pun sudah bagus sehingga mudah menjual. Semoga kedepannya dapat bekerja sama dengan perusahaan lain bahkan sampai ke ekspor,” tambah Livson.

Program M3

M3 adalah program unggulan di bidang ekonomi yang dijalankan Dompet Dhuafa. Target utama program ini adalah pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan mustahik (penerima zakat) 1,5 kali dari upah minimum kabupaten/kota (UMK).

“Kalau 1 kali UMK itu kan biasa, nah kita ingin lebih. Jadi kalau UMK nya Rp 2 juta, kita ingin penerima manfaat kita memiliki pendapatan Rp 3 juta,” jelas Casdimin, penanggung jawab program M3.

Karena program ini menuntut perubahan cepat kelompok mustahik menjadi muzakki, maka program ini menyasar sektor-sektor ekonomi strategis, baik pertanian, peternakan, perikanan, maupun UMKM. Saat ini ada empat klaster yang dikelola program ini, hortikultura di Cipanas-Cianjur dan Mojokerto; sapi perah di sapi perah di Sleman dan Sukabumi, budidaya kerang hijau di Serang, dan UMKM di Bekasi.

“Karena ini program unggulan, kriteria miskin saja tidak cukup. Harus ada potensi ekonomi yang bisa kita kembangkan dan mampu mendongkrak pendapatan penerima manfaat program,” tambah Casdimin.

Strategi pengelolaan program diawali dengan desain program yang matang. Analisa dampak dan keberlanjutan program harus dinilai secara matang agar keberhasilan bisa tercapai. Dompet Dhuafa juga menerjunkan tim khusus untuk mendampingi peserta program. Mulai dari pendampingan komunitas, proses produksi, hingga jaringan pemasaran.

“Selama ini pemasaran yang paling krusial, percuma kalau produknya bagus tapi tidak ada pasarnya,” tutur pakar pertanian Dompet Dhuafa ini.

Sejak digulirkan pada tahun 2015 lalu, sedikitnya ada 180-an orang yang menjadi penerima manfaat di enam wilayah sasaran. “Alhamdulillah dua tahun berjalan tujuan program ini tercapai, sudah banyak mustahik yang menjadi muzakki,” tukas Casdimin.