Zakatnesia Membentang Kebaikan

Konferensi Pers Program Ramadhan Dompet Dhuafa, Rabu (25/5/2016)

Pengelolaan zakat terus menjadi pembicaraan hangat umat Islam. Kejayaan zakat di zaman Rosul dan para sahabat, sebagai penyelesai persoalan sosial, karena dikelola dengan benar. Baik secara syariat maupun regulasi pemerintahan.

Zakat dihimpun dan disalurkan oleh lembaga, bukan perseorangan. Terdapat juga sanksi bagi yang melanggarnya. Bahkan diperangi. Tegas sekali.

Di Indonesia zakat diatur dalam Undang-undang 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat. Menurut penelitian IPB dan Baznas RI potensi zakat Indonesia tahun 2015 mencapai 217 triliun. Sungguh sangat besar. Namun kekuatan ekonomi umat Islam ini belum terkelola dengan maksimal. Padahal keluarkan harta 2,5 persen secara kolektif, bisa selamatkan jutaan orang yang kesulitan.

Zakat bagi sebagian orang masih dipandang sebagai bentuk kedermawanan. Padahal jelas perintah mengambilnya dari orang yang wajib berzakat (muzakki). Zakat adalah kewajiban. Zakat adalah hak orang lain di harta kita yang harus segera dikeluarkan. Jika tak dikeluarkan ibarat rayap yang memakan kayu dari dalam.

Kewajiban berzakat tak pernah gugur, walau keadaan negara berperang sekalipun. Takaran zakat sama di seluruh dunia, berbeda dengan pajak.

Harusnya zakat menjadi kebutuhan bahkan sebagai gaya hidup. Sama seperti sholat, hukumnya wajib. Penyempurna rukun Islam.

Zakatnesia, ini istilah baru yang diluncurkan oleh Dompet Dhuafa. Tepat menjelang Ramadhan 1437 H ini. Zakatnesia, zakat dan Indonesia. Akulturasi antara sebuah kewajiban dalam beragama dan bangsa mayoritas Islam. Zakatnesia, jadi tema kampanye tahun ini oleh lembaga terbesar pengelola zakat di Indonesia itu.

Zakatnesia menjadi alat Membentang Kebaikan secara berjamaah membangun bangsa yang lebih baik. Jika potensi zakat terkelola dengan baik, saya yakin tak ada muslim Indonesia yang melarat.

Melalui kampanye Zakatnesia, Dompet Dhuafa berupaya menyiarkan dan mengedukasi masyarakat terkait kekuatan zakat bagi pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tak hanya mengedukasi dan menghimpun, tapi juga mendayagunakan dalam berbagai program pemberdayaan. Memutus mata rantai kemiskinan.

Musfi Yendra, Pembina Dompet Dhuafa Singgalang