Makam Fiktif Dijual Seharga Rp 3 Juta

Ilustrasi Tempat Pemakaman Umum

JAKARTA – Kepala Distaman DKI Jakarta, Djafar Muchlisi mengatakan makam fiktif yang dibuat para mafia makam dijual seharga Rp 2-3 Juta per makam.

“Kami dapat informasi, mereka sengaja membuat makam fiktif. Lalu menjualnya kembali jika ada warga yang ingin memakamkan, Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per makam,” katanya.

Ia menambahkan, para pelaku tetap membayar biaya retribusi selama ini, “Jadi, si pelaku membuat gundukan dan nisan di salah satu lahan makam. Padahal makam itu kosong. Ia tetap membayar retribusi makam. Memang murah, hanya Rp 40.000 sampai Rp 100.000 per tiga tahun,” katanya, seperti dikutip dari warta kota.

Awalanya pelaku mengaku makam tersebut untuk dirinya kelak. Namun, Djafar tidak percaya begitu saja. Pasalnya, ada indikasi bahwa makam tersebut diperjual belikan.

Menurut Djafar, dengan adanya temuan tersebut, tidak menepis jika menyebut terdapat mafia makam. Pasalnya, pelakunya, tidak hanya pada satu orang saja.

“Mereka ini saling berhubungan. Jadi ada warga-warga sekitar bantu bersih-bersih makam, yang sudah dipercaya ahli waris. Si warga-warga ini yang kemudian, membuat makam-makam fiktif dan dijualnya. Kami duga adanya permainan dengan para petugas kami. Baik dari PHL maupun petugas TPU,” katanya.

Salah satu makam fiktif yang cukup banyak, menurut Djafar terdapat di Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Namun, ia masih belum menyebutkan jumlah dan pelakunya.

Diberitakan sebelumnya Distaman Jakarta telah menemukan 10 makam fiktif, Yaitu enam makam di TPU Kawi-Kawi (Jakarta Pusat), TPU Pasar Baru (Jakarta Pusat) sebanyak tiga makam, dan satu makam di TPU Karet Bivak.

Dalam upaya membongkar kasus mafia makam, penyelidikan terus dilakukan dan diduga masih banyak makam fiktif yang akan ditemukan.