Ikan Sarden dalam Kereta Listrik

Kereta Rel Listerik (KRL) di dalam wilayah Jabodetabek sudah diperbaiki. Stasiun-stasiunnya sudah berwajah baru. Tampaknya bersih dan rapi. Ada kamar kecil yang airnya lancar dan dijaga kebersihannya oleh petugas yang siap setiap saat. Tapi bau tak sedapnya masih semerbak menyergap hidung. Musholanya juga bersih.

Tidak ada lagi penumpang berjubelan di atas atap gerbong. Mereka dulu tidak membayar karcis. Dengan cara baru masuk keluar stasiun menggunakan kartu dan pintu elektronik, tidak ada seorang pun yang naik KRL yang tidak membayar. Ini adalah jenis perbaikan yang paling menonjol karena langsung menambah pemasukan keuangan.

Begitu sistem karcis elektronik digunakan, kartu karcis dibawa pulang untuk kenang-kenangan penumpang. Perusahaan pun rugi. Dengan pintu elektronik dipakai, karcis elektronik dihargai Rp 10 ribu sebagai jaminan. Untuk penumpang harian, kartu yang berjaminan tersebut boleh diuangkan kembali di stasiun tujuan. Ongkos resminya dihitung per stasiun sehingga jarak yang jauh terasa murah di kantong.

Perbaikan berikutnya adalah jalur-jalur rel di kiri kanannya diberi pagar besi. Tampak rapi dan tidak ada orang menyeberang potong jalur rel seenaknya. Tapi ada kekurangannya, ketika tiba-tiba rangkaian kereta terhenti mogok, penumpang kesulitan. Mereka sulit untuk mencari pilihan kendaraan umum yang lain. Kenapa?

Jarak panjang dari stasiun ke stasiun banyak tidak ada pintu-pintu di kiri atau kanan rel. Jika kereta mogok, mereka perlu cepat berganti kendaraan umum. Terpaksa mereka berjalan kaki ke stasiun terdekat. Melompat pagar besi akan kesulitan karena pagar besinya tinggi dan runcing. Tidak mungkin pula penumpang perempuan melompati pagar. Pintu dibuat terbuka tapi berbilang jari tangan.

Belum semua jalur KRL terlayani dengan baik. Dapat disaksikan begitu berjubelnya penumpang ke tujuan-tujuan tertentu. Pada jam-jam sibuk pagi dan sore, semua kereta penuh orang. Pada jam-jam yang lain banyak kereta yang kosong penumpang, yaitu pada jam sekitar tengah hari.

Sebagian gerbong dibuat sendiri di dalam negeri. Itu adalah bagian produk anak bangsa yang patut dibanggakan. Tapi biayanya terus terang mahal, lebih mahal daripada harga gerbong bekas pakai yang didatangkan dari Jepang. Gerbong bekas pakai tersebut memang masih layak pakai untuk Indonesia. Mesin pendinginnya juga masih bisa dinikmati.

Para penumpang diberi kesadaran baru. Satu gerbong paling belakang dan paling depan khusus untuk penumpang perempuan. Tidak boleh ada penumpang laki-laki di dalamnya. Di dalam gerbong-gerbong yang lain juga disediakan tempat-tempat duduk khusus untuk orang tua, perempuan hamil, dan orang cacat. Kadang tempat duduk khusus ini diduduki oleh orang-orang muda yang tidak tahu diri. Mereka pura-pura tidur.

Bagian keamanan selalu mondari mandir. Jika ada penumpang tua atau cacat atau hamil tidak mendapatkan tempat duduk, bagian keamanan mencarikannya. Hanya sedikit penumpang muda yang memberi kesempatan penumpang yang lebih tua tidak berdiri.

Stasiun Manggarai salah satu persimpangan kereta yang sangat penting dan ramai. Pembenahan sedang dilakukan di situ. Pada zaman Pesiden Soeharto, konon Manggarai akan dijadikan terminal terpadu, yang menggabungkan lalu lintas KRL dengan angkutan darat yang lain.

Pembenahan yang lain masih perlu dilakukan di sana-sini. Di beberapa stasiun, penumpang harus berjalan keluar atau masuk yang cukup panjang. Tidak terbayangkan jika di waktu hujan atau di tengah hari yang terik. Stasiun Bogor sebagai salah satu contohnya. Orang harus berjalan melingkar-lingkar untuk masuk dan keluar stasiun. Akan bagus, misalnya, bila jalur masuk keluar yang panjang ini diberi atap sebagai pelindung dari hujan atas terpaan panas matahari.

Jalur yang agak rapi ditata adalah jalur Bekasi-Jakarta Kota dan Bogor-Jakarta Kota. Jumlah keretanya banyak karena penumpangnya memang banyak. Jalur tertentu meski penumpangnya banyak, agak kesulitan karena jumlah kereta yang tersedia sedikit. Untuk Tanah Abang misalnya kepadatan penumpang ke Bogor atau Bekasi di waktu sore memang luar biasa. Jumlah keretanya kurang, penumpangnya banyak. Penumpang perempuan dan anak-anak kesulitan bernafas dalam posisi berdiri. Mereka berdesak-desakan seperti ikan sarden di dalam kaleng. (**)