Ikan Sarden dalam Kereta Listrik

1.142 views

Sebagian gerbong dibuat sendiri di dalam negeri. Itu adalah bagian produk anak bangsa yang patut dibanggakan. Tapi biayanya terus terang mahal, lebih mahal daripada harga gerbong bekas pakai yang didatangkan dari Jepang. Gerbong bekas pakai tersebut memang masih layak pakai untuk Indonesia. Mesin pendinginnya juga masih bisa dinikmati.

Para penumpang diberi kesadaran baru. Satu gerbong paling belakang dan paling depan khusus untuk penumpang perempuan. Tidak boleh ada penumpang laki-laki di dalamnya. Di dalam gerbong-gerbong yang lain juga disediakan tempat-tempat duduk khusus untuk orang tua, perempuan hamil, dan orang cacat. Kadang tempat duduk khusus ini diduduki oleh orang-orang muda yang tidak tahu diri. Mereka pura-pura tidur.

Bagian keamanan selalu mondari mandir. Jika ada penumpang tua atau cacat atau hamil tidak mendapatkan tempat duduk, bagian keamanan mencarikannya. Hanya sedikit penumpang muda yang memberi kesempatan penumpang yang lebih tua tidak berdiri.

Stasiun Manggarai salah satu persimpangan kereta yang sangat penting dan ramai. Pembenahan sedang dilakukan di situ. Pada zaman Pesiden Soeharto, konon Manggarai akan dijadikan terminal terpadu, yang menggabungkan lalu lintas KRL dengan angkutan darat yang lain.

Pembenahan yang lain masih perlu dilakukan di sana-sini. Di beberapa stasiun, penumpang harus berjalan keluar atau masuk yang cukup panjang. Tidak terbayangkan jika di waktu hujan atau di tengah hari yang terik. Stasiun Bogor sebagai salah satu contohnya. Orang harus berjalan melingkar-lingkar untuk masuk dan keluar stasiun. Akan bagus, misalnya, bila jalur masuk keluar yang panjang ini diberi atap sebagai pelindung dari hujan atas terpaan panas matahari.

Jalur yang agak rapi ditata adalah jalur Bekasi-Jakarta Kota dan Bogor-Jakarta Kota. Jumlah keretanya banyak karena penumpangnya memang banyak. Jalur tertentu meski penumpangnya banyak, agak kesulitan karena jumlah kereta yang tersedia sedikit. Untuk Tanah Abang misalnya kepadatan penumpang ke Bogor atau Bekasi di waktu sore memang luar biasa. Jumlah keretanya kurang, penumpangnya banyak. Penumpang perempuan dan anak-anak kesulitan bernafas dalam posisi berdiri. Mereka berdesak-desakan seperti ikan sarden di dalam kaleng. (**)