Mak Uduk Berlindung di mana?

ilustrasi rusun

Rumah susun sewa (rusunawa) ini resik. Lantainya bersih lantaran barang baru. Karena Mak Uduk suka melihat alam sekitar maka rusunawa ini diberinya nama panggilan Rawaburung. Ketika pagi penyeruak banyak burung beterbangan melintas singgah sebentar di bubungan. Mereka berceloteh seenaknya. Mak Uduk menikmatinya.

Kicau burung menjadi sesuatu yang dijadikan Mak Uduk sarapan tiap hari. Setelah itu, jam-jam harinya tidak bertuan, tidak ada kegiatan apa pun. Sewaktu masih di Bukitduri, pagi-pagi dia sudah menyiapkan dagangan nasi uduk sederhana di depan gubugnya. Nasi uduk bertemankan dadar yang diiris-iris tipis, brambang goreng, dan sambal adalah makanan ala kadar yang dijualnya. Harganya 5.000 rupiah sebungkus daun pisang. Yang penting nasinya diperbanyak.

Tiap pagi Mak Uduk dapat menjual 40 bungkus. Meski dia hanya berjualan sampai pukul 10 pagi, dagangannya cepat habis. Pembelinya tukang becak, tukang ojek, buruh yang berangkat kerja, dan anak-anak sekolah.

Beda dengan para penjual di banyak tempat, Mak Uduk suka memberi utang kepada siapa saja yang makan nasi uduknya. Orang yang berutang tidak dicatatnya dan tidak ditagihnya. Jika mereka membayar, dia bersyukur. Jika mereka tidak membayar, dia juga bersyukur sebab sudah diberi kesempatan untuk berbaik hati kepada orang yang sangat perlu makan pagi.

Tiba-tiba rumah-rumah liliput harus dibongkar di Bukitduri. Alat-alat berat tanpa ampun menggusur mereka termasuk rumah-rumah yang semi permanen. Apa boleh buat, kendaraan besi berat tersebut dengan leluasa memorakporandakan bangunan apa saja tanpa perlawanan. Perlawanan yang ada datang dari orang-orang yang merasa memiliki perkampungan padat itu. Mereka marah, menjerit, berteriak, dan menangis.

Beberapa hari setelah hidup beratapkan langit, Mak Uduk dan kawan-kawan senasibnya diangkut ke Rawaburung itu. Cucu satu-satunya yang sekolah SMP harus sehidup semati. Untuk beberapa hari, cucunya belum sekolah sebab masih dicarikan sekolah yang tidak jauh dari Rawaburung. Hari ini adalah hari pertama si cucu sekolah. Dia harus berjalan kaki satu jam masuk keluar kampung.

Mak Uduk kawatir bila cucunya tidak dapat sekolah. Ada petugas yang telah mencarikan sekolah dengan minta upah. Cucu ini menjadi jagoannya. Segala perhatiannya ditujukan kepada sang cucu setelah emak dan ayahnya tewas korban truk tabrak lari.

Mak Uduk tidak habis pikir, setelah tiga bulan, harus bayar uang sewa rusunawa. Dengar dari petugas, rusunawa ini sebenarnya tidak untuk korban gusuran tapi untuk disewakan kepada buruh yang masih bujangan. Satu kamar untuk dua orang bujangan.

Dapatlah dimengerti mengapa Mak Uduk kemudian resah. Dia tidak bisa jualan nasi uduk karena tidak ada pembelinya. Beberapa orang pindahan menanak nasi sendiri di kamarnya masing-masing.

Dalam keadaan yang paling sedih pun, Mak Uduk tidak pernah mengeluarkan air mata. Kepada cucunya memang diajakarkan untuk tidak meratapi hidup. Segala sesuatu sudah ada yang mengatur. Itu harus dijalanani dengan langkah-langkah yang tidak goyah.

Harus berjualan apa, harus bekerja apa, dan harus bernaung di mana, adalah pertanyaan yang memburu Mak Uduk. Tidak menambah pendapatan dan selalu menguranginya adalah beban yang harus diatasinya. Keadaan yang menghimpit ini tidak diceritakan kepada cucunya.

Mak Uduk sedang duduk mencakung. Matanya menerawang menembus jendela. Tidak ada sesuatu lain yang dipikirkannya kecuali bagaimana cari makan dan membayar sewa kamar yang sudah harus dimulai bulan depan. Si Cucu belum juga pulang sekolah, sudah lewat lima jam.

Tiba-tiba cucunya muncul beruluk salam dengan wajah berkeringat. Dia tersenyum lalu mencium tangan neneknya. “Aku bawa uang, Nek,” ujarnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang kumal. “Simpan, Nek. Nanti ada gunanya. Aku tadi memulung.”

Mak Uduk menerima uang tersebut dengan dada berdegup. Air matanya sudah menggantung akan jatuh. Kawatir dilihat cucunya segera dia berpaling dan  berkata, “Makanlah dulu.”

Mak Uduk ke dapur. Matanya melirik. Cucunya tidak langsung duduk untuk makan. Dia berwudhu lalu meraih sajadah, akan shalat Magrib. Air mata Mak Uduk jatuh. (*)