“Curiga” Yang Bikin Curiga

Ilustrasi: ahli duwung sedang menayuh keris.

DALAM bahasa Kawi, keris disebut curiga. Tapi ketika Cagub Ahok kemarin kampanye di daerah Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, seorang warga bernama Faizal Rizki Agung (22) diamankan polisi gara-gara membawa keris saat mendekati Ahok. Pemuda itu dicurigai mau berbuat onar atau bahkan membahayakan keselamatan sang petahana, karena “curiga”-nya tersebut. Padahal katanya sih, anak muda ini sekedar ingin foto bersama Ahok dengan pamer keris “bertuah” miliknya.

Pengalaman pahit Faizal ini mengingatkan pada kisah legendaris tentang Kebo Ijo dalam sejarah Singosari. Dia bangga sekali akan keris Empu Gandring pemberian sahabatnya, Ken Arok, prajurit Tumapel kepercayaan akuwu Tunggul Ametung. Ke mana-mana dipertontonkan pada setiap orang. Tapi ketika tiba-tiba akuwu Tunggul Ametung tewas dengan dada tertusuk keris Empu Gandring, Kebo Ijolah yang dicurigai sebagai pembunuhnya. Jaman itu belum ada pengacara, sehingga tanpa bisa membela diri Kebo Ijo dihukum mati dengan tusukan keris yang sama.

Yang untung tentu saja Ken Arok. Lewat keris Empu Gandring, empu pembuat keris tersebut mati ditusuk Ken Arok. Ken Arok pula yang kemudian diam-diam membunuh junjungannya, akuwu Tunggul Ametung. Setelah berhasil menusuk Tunggul Ametung, pada akhirnya Ken Arok sukses “menusuk” Ken Dedes janda Tunggul Ametung di tilam rum (ranjang), tentu saja dengan “keris” pribadinya yang berbentuk ladrangan (lurus) bukan luk (berkelok-kelok).

Meski sudah abad ke-21 dengan perkembangan teknologi luar biasa, manusia Indonesia masih banyak yang mempercayai keris berikut tuahnya. Orang Jawa tempo doeloe punya filosofi, manusia hidup sempurna manakala memiliki: garwa (istri), wisma (rumah), curiga (keris), turangga (kuda) dan kukila (burung). Tanpa lima hal tersebut, orang Jawa masa itu merasa hidup aji godong jati aking (lebih berharga daun jati kering).

Di masa sekarang, turangga itu kini diimplementasikan menjadi mobil, kukila menjadi alat-alat musik yang mahal, curiga berubah jadi senjata api pistol. Yang terakhir itu paling menjadi kebanggaan manusia modern. Sehingga tak mengherankan kini banyak orang penting dan merasa sok penting, berusaha memiliki pistol itu, meski ijinnya tak mudah dari Kepolisian. Soalnya banyak yang sekedar untuk menakut-nakuti atau menggertak orang. Berbagai kasus menunjukkan, sejumlah orang jadi urusan polisi gara-gara pamer senjata api.

Orang Jawa mempercayai bahwa keris atau duwung memiliki daya linuwih (pengaruh hebat) terhadap pemiliknya. Di Kraton Yogyakarta, siapapun yang menjadi Sultan penerus HB-HB (Hamengku Buwono) sebelumnya, harus mewarisi keris pusaka yang bernama Kyai Kopek dan Kyai Jaka Piturun. Diceritakan, Gusti Dorojatun sebelum dilantik (1940) menjadi Sultan HB IX, sepulang dari studi di Belanda menerima penyerahan keris Kyai Kopek dari sang ayah, Sultan HB VIII, di Hotel Des Indes (kini kompleks Duta Merlin) Jakarta.

Lucunya, meski jelas bukan keturunan raja dan tak mungkin jadi raja, banyak juga pejabat tinggi negara yang rela mengeluarkan uang ratusan juta bahkan miliaran, hanya untuk memiliki keris bertuah. Dia meyakini, keris itu akan menjadi sipat kandel (kekuatan mistis) dalam mempertahankan kekuasaan hingga dua periode. Maka boleh percaya boleh tidak, ada juga sekelompok orang yang kerjanya “bisnis” keris pusaka, mendekati pejabat tertentu untuk membeli keris milik atau dagangannya.

Saking begitu banyaknya manusia percaya keris, sampai-sampai Asmuni dari grup Srimulat, juga mengaku punya keris sakti yang katanya berasal dari ular. Apakah ular itu yang benar-benar menjelma menjadi keris? Bukan! Kata Asmuni, “Saya tangkap ular, lalu saya jual. Duitnya kemudian buat beli keris ini….!” (Cantrik Metaram).