Songkok Putih dan Songkok Hitam

Pada aksi 212 jumlah yang hadir di Monas dan sekitarnya, luar biasa banyaknya. Mereka berpakaian muslimah-muslim. Yang perempuan berhijab dengan bagian atasnya adalah jilbab. Untuk prianya diwajibkan baju putih tanpa leher baju dan songkok warna putih.

Biasanya yang dipakai kaum muslim adalah songkok hitam beludru. Songkok hitam kemudian diformalkan sebagai tutup kepala resmi. Para menteri ketika pelantikan berjas dan bersongkok hitam, tidak masalah apa agamanya. Songkok hitam juga kemudian dikenakan oleh banyak kaum lelaki nonmuslim. Memang tidak ada larangan untuk itu.

Songkok putih lebih dikenal di Indonesia sebagai songkok orang yang sudah pernah umrah dan atau haji. Orang yang bersongkok putih langsung mendapat sebutan “Pak Haji.” Tidak jarang orang yang bersongkok putih yang dipanggil Pak Haji itu bahkan belum pernah ke Tanah Suci. Kelaziman berubah sesuai perekembangan zaman.

Orang Indonesia yang ke Tanah Suci tidak melihat lelaki yang bersongkok hitam di sana. Kaum lelaki Indonesia yang baru satu dua hari tiba langsung mengganti songkok hitamnya menjadi songkok putih. Kadang songkok putih tersebut tidak sepenuhnya berwarna putih tapi ada hiasan-hiasan tambahan dengan warna yang berbeda.

Kalangan muslim dari Timur Tengah sampai Magribi (Maroko dan sekitarnya) tidak pernah bersongkok hitam. Yang Arab biasanya berpakaian gamis panjang dengan tutup kepala khas Arab yang berlingkaran di kepalanya, bisa bulat ataupun segi empat. Jamaah dari negeri-negeri lain, terutama Pakistan, India, dan Bangladesh bersongkok haji yang biasa kita kenal di Indonesia.

Untuk oleh-oleh sajadah biasanya yang produksi Turki dan Parsi (Iran) menjadi pilihan utama. Pekerjaannya halus dan bahannya juga bagus. Di hari-hari terakhir musim haji biasanya yang tersisa adalah bikinan Bangladesh. Apa boleh buat daripada tidak bawa oleh-oleh, dari mana pun  dibuatnya oke asal belinya di Tanah Suci.

Jamaah Indonesia yang datang dari pedalaman, sering membawa barang oleh-oleh yang berat timbangannya. Pernah disaksikan mereka membeli kuali besar. Selain ukurannya besar juga berat hingga ditolak dalam bagasi penerbangan. Biasanya mereka tidak putus asa, harus membeli ceret tempat air minum yang dari luar kelihatan dibuat dari kuningan. Model ceretnya memang seperti ceret yang dipakai keluarga-keluarga Arab. Kalau kita cermati ternyata ceret-ceret model ini buatan Korea atau Cina.

Para produsen pandai melihat dan kemudian memanfaatkan kesempatan. Jamaah haji jutaan jumlahnya. Jamaah umrah juga jutaan jumlahnya. Produk keislaman dan kearaban menjadi souvenir yang dicari orang. Ibadah Umrah yang berlangsung hampir sepanjang tahun adalah pasar yang berkepanjangan.

Apakah pengusaha Indonesia tidak memanfaatkan ceruk pasar di Tanah Suci itu? Jangan heran jika Anda melihat songkok haji putih dan stelan celana dan baju gamis pendek buatan Tasik dan Ciamis. Tidak tahu, mereka mengekspor langsung atau dititipkan kepada perusahaan lain.

Kembali ke songkok hitam dan songkok putih. Benar, songkok hitam bisa dan boleh dipakai oleh kalangan nonmuslim. Contohnya sering tampil di televisi. Mereka tampaknya tidak (atau belum?) berani mengenakan songkok putih. Kita sih berharap makin banyaklah orang bersongkok putih tapi benar-benar secara putih masuk Islam. Mudah-mudahan seperti itu.

Tapi ingat, pastur juga bersongkok putih. Para penganut Yahudi ortodoks yang banyak kita jumpai di Dinding Ratapan (salah satu sisi bawah Haram el Syarif, Kota Tua Yerusalim) juga bersongkok putih. Tapi bentuknya kecil hanya seperti kuwe apem yang ditempelkan di bagian ubun-ubun. (*)