Songkok Putih dan Songkok Hitam

1.660 views

Jamaah Indonesia yang datang dari pedalaman, sering membawa barang oleh-oleh yang berat timbangannya. Pernah disaksikan mereka membeli kuali besar. Selain ukurannya besar juga berat hingga ditolak dalam bagasi penerbangan. Biasanya mereka tidak putus asa, harus membeli ceret tempat air minum yang dari luar kelihatan dibuat dari kuningan. Model ceretnya memang seperti ceret yang dipakai keluarga-keluarga Arab. Kalau kita cermati ternyata ceret-ceret model ini buatan Korea atau Cina.

Para produsen pandai melihat dan kemudian memanfaatkan kesempatan. Jamaah haji jutaan jumlahnya. Jamaah umrah juga jutaan jumlahnya. Produk keislaman dan kearaban menjadi souvenir yang dicari orang. Ibadah Umrah yang berlangsung hampir sepanjang tahun adalah pasar yang berkepanjangan.

Apakah pengusaha Indonesia tidak memanfaatkan ceruk pasar di Tanah Suci itu? Jangan heran jika Anda melihat songkok haji putih dan stelan celana dan baju gamis pendek buatan Tasik dan Ciamis. Tidak tahu, mereka mengekspor langsung atau dititipkan kepada perusahaan lain.

Kembali ke songkok hitam dan songkok putih. Benar, songkok hitam bisa dan boleh dipakai oleh kalangan nonmuslim. Contohnya sering tampil di televisi. Mereka tampaknya tidak (atau belum?) berani mengenakan songkok putih. Kita sih berharap makin banyaklah orang bersongkok putih tapi benar-benar secara putih masuk Islam. Mudah-mudahan seperti itu.

Tapi ingat, pastur juga bersongkok putih. Para penganut Yahudi ortodoks yang banyak kita jumpai di Dinding Ratapan (salah satu sisi bawah Haram el Syarif, Kota Tua Yerusalim) juga bersongkok putih. Tapi bentuknya kecil hanya seperti kuwe apem yang ditempelkan di bagian ubun-ubun. (*)