Nama Yang Menginspirasi

Ilustrasi: Sekumpulan KTP yang pemilknya bernama aneh-aneh.

APALAH artinya sebuah nama, begitu kata pujangga Inggris William Shakespeare. Tapi bagi orang Indonesia, nama adalah doa sekaligus untuk menginspirasi bagi anak itu sendiri. Maka ketika kemarin ada bayi lahir diberi nama Aniessandi, buru-buru Cagub Anies Baswedan datang membezuknya di Rumah Sakit Prikasih, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sebab selain untuk mendoakan si bayi, hal itu sekaligus juga merupakan promosi Cagub untuk berlaga di putaran kedua 19 April 2017 mendatang.

Seperti kata pujangga Inggris tersebut, nama itu kelihatannya sepele, tapi karena dianggap sepele itu bisa bikin berabe. Orangtua Jawa memberi anak Bejo, Genuk, Rembyuk, Kliwon; bisa bikin anak itu minder dalam pergaulan di masa remaja. “Bagaimana sih orangtuaku ini, nama tidak beli saja dikasih yang jelek-jelek?” Maka banyak anak muda yang diam-diam mengubah nama pemberian tua, meski nama itu tidak jelek-jelek amat.

Di Solo tahun 1970-an, ada nama Gatot Waluyanto diganti jadi: Yan Wigasmara, Putut Pudyatmo diganti menjadi Putu Pudya, biar terkesan orang Bali, seperti Putu Wijaya. Bahkan ada orang menyingkat namanya menjadi W. Sofwan, karena ternyata W itu kepanjangan: wardimin. Rupanya dia malu namanya terasa ndesit sekali.

Masih di Solo, tepatnya di Kartosura, ada keluarga muda memberi nama anak perempuannya: Rengganis. Adiknya lagi bernama: Renggina. Tetangganya pun meledeknya, nanti anak ketiga diberi nama Rengginang, biar renyah dan gurih macam kue rengginang yang terbuat dari ketan digoreng itu.

Ada juga nama Jawa terkesan seperti teka-teki. Namanya Depuk, itu katanya gede tur empuk. Maka ketika si Depuk punya adik, tetangga menduga-duga, pasti bayi itu akan diberi nama Liktos alias: cilik atos. Tapi ini sungguh-sungguh terjadi. Di daerah Ngombol Purworejo (Jateng) ada sebuah keluarga punya dua mantu yang namanya lucu dan mirip. Mantu perempuan bernama Tuyem, katanya berarti: metune ayem. Mantu lelaki namanya Tuyar, katanya itu berarti: metune mayar!

Di AURI Yogyakarta tahun 1970-an ada pegawai bagian sipil yang kakak beradik bernama terkesan mengambil surat Al Fatihah. Sang kakak bernama Maliki, adiknya Yaumidi. Masih di Yogyakarta, di kampung Ngasem ada seorang kepala keluarga bernama Kasroni. Maka anak tetangga setiap melihat orang tersebut lewat langsung pura-pura belajar mengaji: “Nun kasroh ni…..!”

Yang belum lama ini jadi rame, ada sejumlah anak muda yang bernama Tuhan. Itu ada di Banyuwangi, dan Surabaya. Tak jelas, kenapa orangtua mereka memberi nama tersebut. Padahal di Indonesia, istilah “Tuhan” bermakna Allah maha pencipta alam semesta. Maka di sini bisa bermakna SARA, sehingga MUI pun sampai menyarankan agar berganti nama lain.

Di tahun 1960-an, ada orang PKI memberi nama anaknya Palupi Arita, sehingga jika masa itu sudah ada Habib Rijiek pasti dimasalahkan. Ada pula bayi diberi nama Sri Agrarini, karena ayahnya kala itu sedang bersengketa tanah dengan Kantor Agraria. Tapi paling unik di Tangerang, masa memberi nama anak: Minal Aidzin Walfaizin. Tetangga pun berseloroh, “Dia tiap hari Lebaran melulu.”

Bagi orang Jawa masa lalu, ada nama anak, ada pula nama dewasa. Nama dewasa biasanya selalu disesuaikan dengan pekerjaan atau profesinya. Maka dokter sering nama belakangnya Husodo (obat). Oleh karenanya  ada tokoh pergerakan bernama : dr Wahidin Sudirohusodo. Di Yogyakarta sebelum tahun 1970 ada dokter yang praktek di depan Pura Pakualaman, namanya: dr Martohusodo. Yang jadi pejabat pemerintah, bernama Wongsonegoro, Sumantri Brojonegoro. Lalu bagaimana dengan penyanyi Heny Purwonegoro, apakah dia berasal dari Banyumas? Begitu pula yang bernama Wijoyo Nitisastro, apakah orangtuanya dulu bekerja sebagai korektor di percetakan?

Yang pasti, orangtua memberikan nama bagi anak-anaknya merupakan doa sekaligus untuk menginspirasi. Yang bernama Slamet Rahardjo, diharapkan dia selalu selamat. Begitu pula yang bernama Endah Sri Rahayu, pasti diharapkan jadi wanita cantik yang selalu selamat sejahtera. (Cantrik Metaram)