Dakwah dengan Pendekatan Budaya Ala Sunan Kalijaga (3)

Ilustrasi : Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up to date, paling mutakhir waktu itu nut jaman kelakone (menurut semangat jaman) seperti kata Ki Dalang Narto Sabdo (alm) atau Zeitgeist, kata orang Jerman.

Njeng Sunan Kali (jaga) memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Budha. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam.

Beliau  menciptakan seni-budaya baru, yang menggabungkan keduanya. Gamelan, tembang dan wayang dipertahankan dan bahkan diperkaya dengan perangkat dan lakon-lakon baru. Misalnya, lakon Wahyu Jamus Kalimasada untuk memperkenalkan Kalimat Syahadat.

Budaya, menurut saya, adalah serangkaian nilai-nilaiyang menjadi pedoman hidup manusia untuk mempertahankan hidup dan meningkatkan kwalitas hidup menuju kebahagiaan.  Ini tidak hanya menyangkut seni-budata, tapi segala aspek kehidupan, termasuk pengobatan, herbal terutama dan pjat (fisioterafi).

Sunan Kalijaga mempergunakan falsafah empan papan atau local setting, di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Sunan Drajat, juga seorang wali, yang berdakwah di Lamongan, pantura Jawa Timur, menyampaikan nasihat agar orang suka tolong menolong dengan idiom-idiom lokal, bukan Arab. Berikut adalah nasihatnya: “Menehana payung marang wong kang kodanan, menehana teken marang wong kang kalunyon, menehana pangan marang wong kang kaluwen lan menehana sandang marang wong kang kawudan”.

Nasihat itu mengandung ajakan:  Berilah payung kepada orang yang kehujanan, berilah tongkat kepada orang yang berjalan di tempat licin, berilah makan kepada orang yang kelaparan dan berilah pakaian kepada orang yang telanjang. Yang banyak hujan dan tanahnya licin kalau kena air adalah Pulau Jawa, termasuk Lamongan dan sekitranya, Arab Saudi jarang mendapat hujan dan wilayahnya berupa padang pasir, jadi orang jarang mengalami berjalan di tanah yang licin. Sunan Drajat tidak langsung menyebut ayat Al-Quran yang mewajibkan muslim untuk membayar zakat, infaq dan sedekah serta wakaf.