Peduli Janda Miskin

Ilustrasi: Santunanuntuk para janda miskin.

BEBERAPA hari lalu Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kembali bikin berita. Dia marah karena ada janda tua terlantar tak kebagian beras perelek. Maka Kepala Desa dan Camat tempat di mana nenek itu tinggal, langsung dipanggil dan diancam, “Pilih kawini janda itu, atau menyerahkan 3 bulan honor kalian untuk janda ini?” Meski ancaman itu di opsi pertama itu sangat menggelikan, tapi itu menunjukkan bahwa Bupati Purwakarta ini sangat peduli pada janda miskin.

Tak jelas, opsi mana yang diambil Kades dan Camat itu. Menikahi nenek Sahen yang sudah berusia 87 tahun, atawa memilih memberikan santunan 3 bulan honor mereka. Tapi jika Bupati Dedi Mulyadi memang serius, pastilah mereka memilih opsi kedua saja. Sebab di samping  jumlahnya juga tak gede-gede amat, juga bisa menyelamatkan stabilitas rumahtangganya. Bayangkan jika Pak Kades atau Pak Camat memilih kawin lagi dengan sijanda tua, apa kata dunia?

Terlepas dari jenis ancaman tersebut, sepakterjang Bupati Dedi Mulyadi memang mengingatkan pada khalifah Umar bin Khatab. Sang khalifah sangat terpukul ketika melihat ada rakyatnya yang menderita kemesikinan, sampai-sampai batupun direbus sekedar untuk menghibur anaknya. Umar segera pulang dan kembali lagi telah memanggul sendiri beras sekarung untuk janda terlantar bersama anaknya itu.

Ingatkah akan ceramah dai sejuta umat KH Zainuddin MZ almarhum? Dia selalu mengingatkan, masih banyak janda yang perlu disantuni. Tentu saja ini para janda miskin, tak peduli masih muda atau sudah nenek-nenek. Sebab jika janda kaya, cantik dan muda, tanpa diingatkan KH Zainuddin MZ pun pasti banyak yang tergerak. Bukan untuk menyantuni, tapi menikahi.

Di era gombalisasi ini, banyak lelaki yang bermodal ketampanan dan kesantunan, sengaja berburu janda kaya, baik artis maupun orang biasa; sekedar untuk “merampok” harta sijanda kaya secara halus. Pura-puranya menikah resmi. Tapi sekian tahun kemudian menggugat cerai dengan harapan memperoleh pembagian harta gono-gini. Jika si janda punya aset Rp 5 miliar misalnya, berarti lelaki pecundang itu akan dapat bagian Rp 2,5 miliar. Bukankah ini cari duit paling gampang, bebas pajak lagi.

Janda itu merupakan status yang tidak nyaman, yang suka atau tidak suka suatu saat akan dialaminya. Dia bisa lolos dari status itu manakala, sebagai istri dia meninggal duluan. Tapi jika suami yang pergi lebih dulu, otomatis gelar itu akan disandangnya. Cuma kalau bisa, status itu diperoleh setelah usia 70 tahun ke atas, ketika suami istri dalam rumah tangga sekedar persahabatan, bukan lagi “pertandingan”.

Jika menjadi janda dalam usia 50 tahun ke bawah, lebih-lebih berwajah cantik, itu akan memancing gosip di lingkungan sekitarnya. Para istri khawatir suami mereka terpikat. Sebaliknya si janda juga akan dicurigai bakal merebut suami mereka. Kecurigaan itu tak selalu benar, tapi juga tidak selalu salah. Soalnya banyak juga “randha kempling” yang dilabrak para istri, karena memang benar-benar merebut suaminya.

Dalam hadis ada disebutkan, surgalah balasannya jika wanita memilih terus menjanda demi membesarkan anak-anaknya. Tapi tak semua  wanita bisa mengorbankan “surga dunia” demi surga di masa depan nanti. Sebab sebagaimana kata orang Surabaya: dadi randha ngentekna klasa. Tak jelas apa maksudnya, apakah para janda itu doyan tikar? Yang pasti, janda muda biasanya memang merasa kesepian, karena tak ada lagi teman hidupnya, tempat curhat di kala duka maupun suka.

Ada sebuah kisah, ketika suaminya meninggal, sehari setelahnya sijanda rajin ke makam sambil bawa kipas. Tiap hari datang sekedar untuk mengipasi makam. Orangpun takjub, begitu setianya wanita itu, sampai-sampai harus setiap hari mengipasai makam suami. Tapi ternyata, si janda itu bilang, “Almarhum suami berpesan, boleh menikah lagi setelah kuburannya kering.” Oo, begitu. Kenapa tak disemprot pakai kompresor sekalian? (Cantrik Metaram)