Ricuh Sesama Arab Belum Reda

Maskapai Qatar Airways termasuk yang terkena dampak blokade Arab Saudi, Bahrain dan UEA (sesawi.net)

AKSI pengucilan oleh Arab Saudi, Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA) terhadap tetangga serumpun mereka, Qatar  belum ditemukan solusinya, bahkan kedua belah pihak saling mengadukannya pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Ketiga negara itu plus Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar  5 Juni lalu karena menganggap negara kaya minyak di kawasan Teluk itu mendukung dan mendanai kegiatan kelompok teroris seperti Al Qaeda, Hamas, NIIS, Ikhwanul Muslimin (IM) dan Hizbullah.

Selain itu, negara-negara Arab yang sebagian di bawah pemerintah monarki telah lama memendam rasa gusar mereka terhadap Qatar yang lebih terbuka, termasuk kiprah stasiun TV Al Jazeera dengan tayangan isu-isu politik sensitif yang dikhawatirkan bisa memicu gejolak politik di kawasan itu.

Qatar pun dikucilkan oleh ketiga negara tersebut dan juga Mesir dari akses hubungan udara, darat dan laut sehingga berdampak pada pasokan bahan pangan yang sebelumnya sebagian besar didatangkan dari Arab Saudi dan dari kedua tetangganya lainnya.

Dalam pengaduannya kepada WTO yang bermarkas di Geneva, Swiss, pemerintah Qatar menuduh Arab Saudi, Bahrain dan UEA melanggar hukum dan konvensi perdagangan internasional serta menuding, boikot dari ketiga negara itu dilatarelakangi alasan  politis.

Aksi boikot oleh ketiga negara itu plus Mesir, menurut pemerintah Qatar, tidak hanya berdampak buruk bagi negaranya yang merupakan eksportir terbesar gas alam, tetapi juga terhadap negara-negara mitra dagangnya.

Sebaliknya, pemerintah UEA dalam pernyataannya menyebutkan bahwa aksi bersama yang mereka lakukan atas Qatar sesuai dengan Pasal 14 dan 21 mengenai Kesepakatan Umum di Bidang Perdagangan dan Jasa (GATS).

Aksi boikot terhadap Qatar, kata  Asisten Wakil Menteri Ekonomi Qatar Juma Mohammed al Kait dalam pernyataannya, sesuai dengan isi pasal-pasal  tersebut, diperbolehkan dengan alasan keamanan.