Derita 26 Pengungsi Bertahan di Depan Rudenim Jakarta

653 views
Pengungsi di depan Rudenim. Foto: Jun Aditya/KBK

JAKARTA (KBK) – Siang itu matahari bersinar terik. Panasnya seperti membakar kulit, namun rasa panas itu tak membuat Asadullah (18) bergeser dari posisinya. Sambil duduk di atas trotoar beralaskan tikar di depan Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Jakarta, ia berharap dapat ditampung.

Sejak seminggu terakhir Asadullah bersama 3 keluarga lainnya yang berjumlah 26 orang bertahan di depan Rudenim. Mereka adalah pengungsi asal Afghanistan yang terlantar sebelum ditempatkan ke negara tujuan.

“Saya di Indonesia sudah 3 tahun tapi belum ditempatkan di negara ketiga. Sebelum kesini kami dari shelter UNHCR di Tebet Jaksel. Tetapi setelah usia saya melebihi 18 tahun saya harus keluar dan tidak tahu mesti bertahan dimana,” ucapnya kepada KBK (7/8).

Hal senda juga dilontarkan oleh Aman (20). Aman menuturkan sebelum menggelar “lapak” di depan Rudenim ia bertahan di kantor UNHCR Kebon Sirih, Jakarta namun di sana ia tidak dapat kejelasan sehingga menaruh harapan bisa ditampung di Rudenim.

“Tujuan kami hanya mencari negara yang nyaman untuk ditinggali. Di Indonesia nyaman tetapi kami tidak boleh tinggal di sini,” ujar Aman yang sudah 3 tahun berada di Indonesia

Dari pantauan KBK dilapangan dari 26 pengungsi yang bertahan tercatat ada 6 anak-anak dan 6 pengungsi yang telah mengantongi kartu pengungsi sah dari UNHCR termasuk Aman. Sedangkan 20 lainnya hanya memiliki sertifikat pengungsi.

“Kami semua sudah diwawancarai oleh UNHCR, tetapi belum di tempatkan ke negara tujuan,” kata Muammad Taqi pengungsi lainnya yang berharap ditempatkan di negara Amerika Serikat.

Taqi berujar selama bertahan di depan Rudenim ia hanya mengandalkan uang pemberian dari masyarakat sekitar yang melintas. Tikar untuk sekedar merebahkan badan pun juga ia peroleh dari masyarakat.Menyoal kebutuhan mandi cuci kakus Taqi memanfaatkan toilet di pos jaga Rudemin.