Pasang Bendera HUT RI

688 views
Ilustrasi Gerakan seribu bendera di Papua. Mereka tetap cinta negaranya meski pembangunan belum merata.

UNTUK menyambut HUT RI ke-72 ini, warga DKI Jakarta sudah  banyak memasang bendera Merah Putih. Sayangnya, banyak yang memasangnya asal-asalan.  Harga bendera berikut tiangnya, sebetulnya tidak mahal. Tapi maklum sajalah, sebab di UU Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, di situ tak ada pasal yang mengatur secara detil bagaimana seharusnya setiap rumahtangga pasang bendera merah putih.

Seminggu lagi bangsa Indonesia memperingati HUT RI ke-72. Presiden Jokowi pun melalui Surat Edaran Sekretaris Kemensesneg RI tanggal 15 Juni 2017 Nomor B-545/M.Sesneg/Set/TU.00.04/06/2017 telah memerintahkan semua lembaga negara dan perkantoran pemerintah dan swasta pasang bendera merah putih dari tanggal 1 hingga 31 Agustus mendatang. Sejumlah Pemprov kemudian juga mewajibkan warga masyarakat untuk memasang Sang Saka sebulan penuh.

Di Jakarta sepertinya tak ada instruksi Gubernur seperti itu. Tapi warga kota banyak yang dengan kesadaran sendiri, tanpa diperintah negara pun sejak 1 Agustus lalu telah memasangnya. Tapi ya itu tadi, banyak yang pasangnya asal-asalan, terkesan tidak menghargai simbol negara. Bisa tidak sempat, bisa juga semuanya diserahkan kepada pembantu atau pesuruhnya.

Di Ciracas Jakarta Timur misalnya, ada warga yang pasang bendera Merah Putih hanya disangkutkan pada tiang garasi, tanpa modal tiang sendiri. Bahkan di Kaveling DKI Cipayung yang penghuninya mayoritas golongan menengah ke atas, masang bendera, ya ampuuun…, terkesan melecehkan simbol negara. Ada yang tiangnya bekas gagang pengepel lantai, sisa pipa pralon disambung-sambung. Paling banyak, bendera Sang Saka dipasang pada potongan bambu sepanjang 1 meter disangkutkan pada pintu garasi.

Ada juga yang pakai tiang tinggi, tapi menyatu dengan tiang antene TV. Bahkan ada pula yang dipepetkan dengan tiang neon boks promosi usaha. Bayangkan, bendera saja tak diberi kesempatan berkibar secara merdeka. Ada pula yang rumahnya besar, pasang benderanya “nyenil” dengan tiang ala kadarnya. Tapi begitu diingatkan pengurus RW, dia tersinggung dengan mengatakan, “Bapak jangan mengajari saya!”