Dengan Wakaf Uang, Kebutuhan Dunia Terpenuhi dan Dijanjikan Surga

wakaf

JAKARTA (KBK) – Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Wakaf Indonesia (BWI), potensi wakaf di Indonesia mencapai Rp 185 Triliun pertahun. Namun hingga saat ini baru 2 persen saja yang berhasil terserap. Dari jumlah tersebut terdapat Rp 7,2 triliun potensi wakaf uang yang nyaris belum banyak mendapat perhatian khusus dari publik dan LAZ.

“Potensi wakaf itu luar biasa dan belum tergali. Sekarang yang banyak terhitung itu adalah wakaf berupa tanah atau bangunan sedangkan wakaf uang belum terhitung. Ada gap yang besar di sini,” ujar Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ismail A Said dalam FGD bertajuk Wakaf Uang untuk Masa Depan di Jakarta (14/9).

Untuk itu Ismail menekankan diperlukan edukasi untuk mengubah paradigma tentang wakaf. Lanjut Ismail, wakaf uang bisa dikembangkan dengan model wakaf produktif.  Khusus untuk wakaf produktif yang saat ini diterapkan Dompet Dhuafa, sedikitnya sudah ada 6 Rumah Sakit yang segera dioperasikan salah satunya Rumah Sakit Mata di
Serang Banten yang segera dilaunchin hasil kerjasama dengan BWI.

Untuk wakaf uang tantangan kedepannya kata Ismail ialah hadirnya ecoummerse. Belakangan diketahui ada salah satu e-commerce di Indonesia yang mendapat suntikan dana  sebesar US$ 1,1 miliar dari Alibaba Grup Holding Ltd. Menurut Ismail hal ini sangat disayangkan karena LAZ yang ada di tanah air belum banyak memanfaatkan momentum tersebut menjadi sebuah gerakan wakaf uang yang dapat menyejahterakan umat.

“Apakah kita mampu mencoba ini. Kita selalu kecolongan dan ketinggalan,” tambah Ismail.

Menimpali ucapan Ismail, Pengusahan muda Prof. DR. Indra Cahya Uno menuturkan supaya gerakan wakaf uang dapat berjalan, wakaf uang harus diikutsertakan dalam model pengembangan bisnis modern. Indra menilai sangat besar peluang wakaf uang untuk bersinergi antara sosial enterprise dengan entitas perusahaan umum.

Bagi Indra yang terpenting wakaf uang dapat menghasilkan dampak yang signifikan kepada umat, sehingga umat dapat bergerak dan melesat dengan cepat menggapai kesejahteraan.

“Ekonomi umat harus kuat tetapi dampaknya harus kita lihat dan targetkan. Dengan model pengembangan wakaf produktif Dompet Dhuafa saya yakin para mustahik pelan-pelan
bisa mengakuisisi saham-saham atau rumah sakit yang nantinya mustahik itu bisa menerima hasilnya,” jelas Indra.

Direktur Dompet Dhuafa Filantropi Drg Imam Rulyawan MARS menambahkan Dompet Dhuafa sendiri telah memiliki legalitas mengenai pengelolaan wakaf uang. Salah satu model pengelolaan wakaf uang yang dapat ditiru oleh lembaga lain ialah sistem manajemen pengelolaan RS Rumah Sehat Terpadu.

Di sini tambah Imam uang yang masuk akan diubah menjadi RS, nantinya nadzir akan menjadi tanggung jawab untuk mengelola RS dengan membentuk sebuah badan pengelola. Dari sistem ini pembagian hasil beserta manfaatnya akan tergambar secara jelas.

Imam mengungkapkan kini Indonesia sangat tertinggal dalam penyerapan wakaf bahkan dari Negara Singapura sekali pun. Merujuk data yang dijabarkan Imam, meski penduduk Singapura bukan beragama muslim namun penyerapan wakafnya sudah mencapai 98 persen. Jauh dibanding Indonesia yang berada di angka 2 persen.

“Jika Indonesia berhasil menggerakan wakaf uang, bukan tidak mungkin Singapura akan belajar ke Indonesia karena mereka sudah kehabisan cara untuk menggenjot wakaf,” ujar Imam.

“Dengan wakaf dunia dapat, akhiratnya juga dapat karena dijanjikan surga oleh Allah SWT,” tambahnya.

Dr Iwan Fuad dari Badan Wakaf Indonesia mengatakan wakaf uang adalah untuk masa depan.Selain itu wakaf uang juga bisa menjadi instrumen tertinggi supaya seorang manusia bisa dekat dengan tuhan. Guna memperkuat posisi wakaf, kini instrumen wakaf sudah masuk ke dalam KNKS Bappernas dibawah Kemenag.

Bila perlu kata Iwan, wakaf dimasukan ke dalam OJK atau BI supaya pengaturannya ketat dan jelas guna mengoptimalisasi aset wakaf yang berhasil terserap. Menurut Iwan wakaf juga merupakan sebuah instrumen yang fleksibel karena ada sistem wakaf berjangka waktu.

“Misalnya ada orang yang mau mewakafkan hartanya dalam jangka waktu 10 tahun. Setelah 10 tahun aset dan keuntungannya kembali, itu boleh sah-sah saja karena ada aturannya,” terang Iwan.

Dimata Iwan harta di dunia itu bersifat lengket. Supaya tidak lengket seorang muslim bisa melepaskannya dengan cara berwakaf.Wakaf tersebut juga bisa berperan dalam mengembangkan program kewirausahaan.

“Bayangkan bila ada satu usaha dibiayai wakaf, berapa banyak warga yang bisa terberdayakan,” ujarnya.

Diluar itu masjid juga memiliki peran besar dalam menyerap wakaf uang. Sekarang ini masyarakat hanya memahami kotak amal yang ada di masjid hanya berupa sodakoh. Namun menurut Iwan, DKM bisa memasang sebuah poster bertuliskan ‘Wakaf uang anda memabangun rumah sakit’.

“Ini bisa memberikan model wakaf yang mudah diakses oleh masyarakat supaya rasa kepeduliannya terbangun. Masjid harus menjadi satu jaringan dalam berwakaf untuk memudahkan masyarakat. Wakaf harus bisa menjadi gerakan nasional,” tuturnya.

Menyoal edukasi wakaf kepada masyarakat bisa dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya menyosialisasikannya melalui media. Pimpinan Redaksi Republika Irfan  Junaidi mengatakan kini wakaf belum menjadi agenda utama pemberitaan.

Lanjut Irfan prinsip dasar pemberitaan pada sebuah media adalah mendorong sebuah gerakan dan ketika pemberitaan itu memiliki dampak pada kebaikan maka pemberitaan itu berhasil.

Untuk saat ini proses pemberitaan wakaf baru ada di tahap menginformasikan. Ini pun kata Irfan masih perlu waktu untuk menjadi agenda utama pemberitaan. Proses berikutnya media wajib mendialogan antar stekholder wakaf. Proses ketiga ialah mengampanyekan gerakan wakaf dan terakhir ialah kontrol evaluasi.

“Pemberitaan wakaf hari ini baru tahap menginformasikan. Kuncinya adalah kita harus memperlihatkan yang orang lain belum lihat,” jelas Irfan