Komunikasi : Pelayanan Kesehatan Holistik

RS Rumah Sehat Terpadu, Dompet Dhuafa di Parung. Foto: Ist

Dompet Dhuafa (DD) sebagai lembaga filantrofi Islam yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum miskin (dhuafa), mulai tahun 2012 di bawah pimpinan Dirut Ismail Agus Said, mendirikan rumah sehat terpadu (RST) di Zona Madina, Parung, Bogor.

Ismail yang mantan bankir kelahiran Lampung ini memilih nama rumah sehat, bukan rumah sakit, merujuk pada kenyataan bahwa tidak ada nomenklatur di mana pun yang menyebut Menteri Kesakitan, tapi Menteri Kesehatan.

Sebagai wartawan dan praktisi komunikasi, saya yang kebetulan menginisiasi DD pada tahun 1993, mendukung langkah Pak Ismail, termasuk nama rumah sehat.

Alasannya, dulu orang datang ke rs dalam kondisi sakit fisik, ketika pulang menjadi sakit kantong (sebelum ada BPJS kesehatan). Itu karena biaya RS mahal, maka ada ungkapan “orang miskin dilarang sakit” atau Sadikin (sakit sedikit menjadi miskin).

RST DD yang dibiayai dana wakaf (produktif) terus berkembang dan bertambah jumlahnya di beberapa daerah, memberi layanan kesehatan holistik (5 in 1) kepada kaum miskin secara gratis, bekerjasama dengan BPJS.

Pelayanan holistik “5 in 1” (lima dalam satu) dilakukan dengan pendekatan budaya lokal, meliputi layanan kesehatan gratis sekaligus disertai pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kebudayaan (etika dan estetika) dan iman taqwa untuk pasien.

Pengobatan medis secara Barat, yang setelah dilakukan uji klinis, secara bertahap dapat dilengkapi dengan pengobatan medis ala Timur, termasuk herbal, fisioterapi, tusuk jarum dan bekam.

Layanan holistik dilengkapi juga dengan bimbingan rohani (doa) untuk pasien oleh para relawan, ambulance antar jemput dengan mobil atau sepeda motor DD dan bantuan lain yang diperlukan. Relawan DD juga disiapkan untuk mendampingi pasien dalam hal berkomunikasi dengan dokter dan petugas terkait.

Menyadari pentingnya komunikasi, sudah seharusnya mata kuliah komunikasi diberikan dengan porsi memadai untuk mahasiswa fakultas kedokteran pada masa awal perkuliahan.

Lelucon atau humor memegang peranan penting dalam berkomunikasi biar mudah difahami karena menghibur. Jadi calon dokter perlu dibekali dengan kemampuan untuk dapat melucu juga. Berikut adalah contoh dialog pasien dan doker.

Pasien: “Dokter itu enak, dapat uang, padahal yang menyembuhkan kan Tuhan”

Dokter: “Betul, saya tidak memaksa, kok. Kalau Bapak/Ibu ingin langsung berjumpa Tuhan, silahkan, please, monggo lho”.

Di jaman serba diskon seperti “Buy three, get one free”, seorang dokter gigi punya motto: “ Cabut dua gigi, yang ketiga gratis”. Kalau mau coba silahkan (asal tahu saja, gigi ketiga itu dalam kondisi sehat lho!).