Wakaf di Indonesia Tertinggal 10 Tahun dari Negara Tetangga

Potensi wakaf di Indonesia sangat besar. Berdasarkan catatan Kementrian Agama RI, saat ini terdapat aset wakaf tidak bergerak sebesar 4,6 miliar meter persegi, yang jika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai Rp 2 ribu triliun.

“Itu yang tercatat saja, yang belum tercatat juga masih banyak. Itu semua berupa lahan tidur mau pun berbentuk sekolah, rumah sakit dan kebun,” jelas Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) Iwan Agustiawan Fuad kepada Swara Cinta akhir Oktober lalu.

Selain wakaf aset, wakaf dalam bentuk uang potensinya juga tak kalah besar. Menurut Iwan dalam satu tahun potensi wakaf uang di Indonesia capai Rp 10 triliun, namun Iwan tak memungkiri bahwa penyerapannya masih lemah, sekitar Rp 30 miliar per tahun.

Dijelaskan Iwan, wakaf uang dibagi ke dalam dua aspek. Pertama ialah wakaf yang dikumpulkan melalui Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS PWU) baik bank mau pun bukan bank, kemudian uang itu dikelola atau diinventasikan melalui sektor rill atau keuangan.

Aspek kedua adalah wakaf yang diberikan dalam bentuk uang. Dalam peraturan BWI, jenis wakaf ini sudah jelas peruntukannya untuk apa. Kemudian uang yang diwakafkan akan digunakan untuk membeli aset seperti sekolah dan rumah sakit.

“Wakaf melalui uang ini potensinya cukup besar hampir Rp 400 miliar per tahun, dihimpun baik melalui kerjasama antarlembaga keuangan maupun Laznas,” terang Iwan.

Iwan berujar, dilihat dari perkembangannya, inisiatif dan minat masyarakat untuk melepaskan hartanya mengalami kenaikan seiring jumlah nazhir yang juga terus bertambah. Ada pun perkembangan tersebut tak terlepas dari model wakaf berjangka yang kini diterapkan BWI. Dengan model wakaf berjangka maka wakif akan kembali menerima asetnya dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun. Selama diwakafkan hasil keuntungan aset yang diterima nazhir sebesar 10 persen, dan 90 persen sisanya akan diterima ke mauquf alaih.

Namun dari sederet instrumen dan regulasi kemudahan berwakaf yang sudah dibuat BWI, Indonesia terbilang masih tertinggal dari negara tetangga kendati penduduknya mayoritas muslim. Kata Iwan, Indonesia tertinggal dari Arab Saudi yang telah memiliki Kementrian Wakaf, terpaut jauh dari Selandia Baru yang telah fokus mengembangkan wakaf berbasis agro industri dan masih jauh untuk mengejar Singapura dan Malaysia yang telah memiliki lembaga khusus yang instrumennya langsung ditunjang oleh negara.

Bahkan, tambah Iwan, perkembangan wakaf Singapura sudah sangat maju lantaran di negara pulau tersebut pemerintahnya akan langsung mengambil alih bila aset wakaf terbengkalai. Dampaknya apartemen, mall, hotel, sekolah dan mall hasil wakaf tumbuh pesat.

“Indonesia perkembangan wakafnya di tingkat dunia tertinggal 5 sampai 10 tahun lalu,” jelas Iwan.

Guna mengejar ketertinggalan tersebut BWI terus melakukan edukasi, mulai dari masyarakat umum hingga ke pelaku usaha industri dan bisnis. Lembaga keuangan seperti bank syariah merupakan target BWI dalam melakukan sosialisasi wakaf.

“Kami edukasi direksinya dan menjelaskan mengenai keuntungan yang bisa diperoleh dari wakaf. Kami juga ajak supaya produk mereka ada sisi-sisi wakaf. Bisa juga dengan deposito yang diwakafkan,” ujar Iwan.

Bagi BWI, wakaf merupakan dana abadi dan bila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik maka dampak kebaikannya akan lebih besar. Dalam wakaf ada distribusi aset dari kalangan mampu ke masyarakat marjinal dan ada dana murah yang bisa dikelola hingga asetnya bisa terus meningkat.

Selain itu, BWI juga lakukan edukasi dan sosialisasi ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk mempersempit ketertinggalan, BWI juga menerapkan strategi membangun pola pikir masyarakat.

“Wakaf itu harus melepaskan. Karena harta yang telah menempel di bumi susah mencabutnya. wakaf disebut instrumen tertinggi juga karena dibutuhkan pemahaman yang tinggi, yang tinggi dekat dengan Tuhannya dan yang tinggi ilmu dunianya.,” jelas Iwan.

Di luar itu BWI juga terus melakukan terobosan dengan membangun infrastruktur wakaf, salah satunya dengan mencetak nazhir dibawah naungan Forum Wakaf Produktif atau Forum Wakaf Indonesia. Menurut Iwan, nazhir harus terus diberikan pemahaman dengan cara dilatih, dibina dan dikembangkan. Kini setidaknya sudah ada 128 nazhir dan jumlahnya terus bertambah.

Terobosan kedua dengan mengajak LKS PWU untuk membantu menghimpun wakaf uang. Hal tersebut sangat penting agar LKS PWU dapat sungguh-sungguh dalam menghimpun, dan melihat wakaf sebagai bagian dari instrumen keuangan yang utama. BWI juga membuat regulator bersama BI dan OJK.

“Kami juga tengah melakukan perubahan UU, karena UU wakaf yang lalu memiliki kelemahan,” kata Iwan.

Bersama BWI, Iwan berharap dengan wakaf negara bukan sekedar menjadi besar atau kuat tetapi juga selamat. Makna selamat sendiri adalah negara bisa terlepas dari hiruk pikuk permasalahan duniawi yang kerap memicu permusuhan dan pertengkaran.

“Sehingga tidak ribut dan berantem hanya karena dunia yang begitu singkat. Wakaf adalah salah satu cara mengajak masyakat untuk menjemput kedamaian,” tukasnya. [Aditya Kurniawan]