Pertama di Indonesia, Wakaf Gamelan

Trusti Mulyono bersama Direktur Utama DD Filantropi, Imam Rulyawan (Foto: KBK)

JAKARTA—Bentuk benda wakaf kini semakin beragam. Jika dulu harta wakaf terbatas pada tanah dan bangunan, sekarang orang bisa berwakaf dalam bentuk uang, saham, kendaraan, bahkan alat kesenian tradisional.

Seperti yang dilakukan Trusti Mulyono, ia mewakafkan satu set gamelan, Slendro dan Pelog, kepada Dompet Dhuafa. “Alat ini menganggur bertahun-tahun, saya ingin ini dimanfaatkan,” katanya di sela-sela pengurusan berkas wakaf di Tangerang Selatan, Jumat (12/1/2018).

Trusti menceritakan, ia membeli perlengkapan itu pada tahun 1991 lalu saat dirinya akan ambil bagian dalam pementasan di Festival Opera di sejumlah negara Eropa 1992 lalu. Setelah kembali ke Tanah Air, gamelan itu tidak sering digunakan. Hingga suatu ketika ada seorang pejabat yang menawarnya. “Saya bilang, gamelan itu tidak saya jual. Saya masih mau menyimpannya,” jelas Trusti.

Trusti pun kemudian meminjamkannya kepada sebuah sekolah di Ciledug. Sayangnya selama hampi 10 tahun dipinjamkan, alat musik itu tidak dirawat sehingga banyak yang rusak. Merasa kecewa, Trusti pun mengambilnya kembali.

Setelah itu, ia kembali meminjamkan kepada perkumpulan ibu di sebuah kementerian, untuk kegiatan budaya. Lagi-lagi dia dibuat kecewa karena yang dipinjami tidak amanah. Alat-alat itu kerap kali disewakan kepada pihak lain tanpa sepengetahuannya. “Bahkan disewanya jauh-jauh seperti Blora, dan waktunya lama, bisa sampai 5 bulan,” jelas wanita yang juga pendiri Yayasan Narendra Krida ini.

Akhirnya, Trsuti pun menyimpan peralatan lengkap ini di kediamannya. Hingga suatu ketika ia kembali bertemu dengan Parni Hadi, pegiat budaya yang juga Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa dalam gelaran Ketoprak “Sunan Kalijogo” di Puspo Budoyo, Ciputat Mei 2017 lalu. Dari sini kemudian muncul inisiatif untuk mewakafkan gamelan yang dimilikinya.

“Jadi saya bingung. ini mau ditaro dimana? Dipinjamkan ke sekolah rusak, anak-anak saya juga tidak ada yang mau meneruskan, akhirnya saya wakafkan,” terang Trusti.

Ia berharap, gamelan ini memiliki banyak manfaat, terutama untuk melestarikan kesenian dan budaya Jawa. Pasalnya, menurut Trusti, saat ini minat orang untuk menekuni kesenian ini sudah sangat minim. “Semoga ada yang me-nguri-uri (menjaga) kesenian ini,” tukasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Rulyawan menyambut baik wakaf alat musik dari Trusti. Menurutnya, ini yang pertama kali di Indonesia. “Meski belum ada modelnya, karena ini yang pertama, Insya Allah kami akan menjaga dan memanfaatkannya,” ujar Imam.

Imam menambahkan, saat ini Dompet Dhuafa tengah fokus dalam penghimpunan dan pengelolaan wakaf produktif. Untuk itu, aset yang diwakafkan akan diptimalkan sehingga bisa produktif dan menghasilkan. “Hasilnya nanti akan dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan seperti seniman yang berpenghasilan rendah,” tukasnya.