GATUTKACA RANTE

Gatutkaca marah, karena Sarjokesuma memfitnahnya, itu kan sama saja pembunuhan karakter.

SETIAP kali Sarjokesuma merengek-rengek minta kawin, keluarga besar negri Ngastina pasti sibuk ikut mengatur segalanya.  Siapa yang ditugasi melamar, siapa pula yang bertindak sebagai pengombyong (pengantar mempelai). Tapi lantaran berulang kali gagal melulu,  para petinggi negeri Ngastina menjadi trauma. Takut dipermalukan lagi di depan publik.

Maka ketika Sarjokesuma naksir Pregiwati yang sebentar lagi hendak dinikahkan dengan Pancawala putra raja Ngamarta, semuanya tenang-tenang saja dan acuh akan nafsu dan kehendak Sarjokesuma. Tak usah dipikirkan benar, paling-paling batal lagi seperti biasanya. Lagian mana mungkin rencana perkawinan itu dibatalkan. Memangnya Prabu Duryudana mau niru Gubernur DKI, hendak batalkan sertifikat pulau reklamasi?

“Eyang Durna, saya minta kawin sama dhiajeng Pregiwati. Saya minta segera dilamarkan ya  Eyang….,” rengek Sarjokesuma, sungguh manja banget.

“Ah, bodo amat! Emangnya gue pikirin? Mending kamu nikah sama mantan TKW aja ya, pasti sukses…!” saran eyang Durna nampak sinis sekali.

Mendengar rencana Sarjokesuma, Burisrawa dan Aswatama malah membully-nya. Adipati Karno, Prabu Baladewa beserta Dursasono juga tak mendukung rencana koalisi sang putra mahkota. Soalnya sudah berulangkali kena batunya, selalu hanya bikin malu saja. Maka meskipun Prabu Duryudana telah menginstruksikan agar  niat dan hasrat Sarjokesuma diback up, semua kompak meremehkan. Kesimpulannya, perintah Prabu Duryudana tersebut tak digubris hampir 58 % para pejabat Ngastina. Prinsip Adipati Karno dan Dursasono, direshufle ya biarkan saja! Kok pusing amat!

“Mendingan Sarjokesuma nyalon gubernur saja, mumpung musim Pilkada.” Kartomarmo memberikan saran.

“Memangngnya Sarjokesuma punya Rp 40 miliar?” ledek Durmagati.

Lantaran tidak memperoleh dukungan kubu Ngastina sendiri, Sarjokesuma segera kabur dari istana Gajahoya. Namun demikian pers, media TV dan online menanggapi dingin saja, tak ada yang mem-blouw up. Jikapun ada  koran muat, hanya satu kolom di halaman dalam. Sarjokesuma kabur dari Istana, begitu saja judulnya. Maklum, semua media massa lebih fokus pada rencana perkawinan  Pancawala – Pregiwati. Harjuna besanan karo Prabu Puntadewa, perkawinan politik menuju 2019 ngkali!

“Kok mau-maunya Pregiwati dikawin Pancawala? Tampang tak menjual, malah terkesan LGBT  gitu kok mau,” bisik-bisik rakyat kelas akar rumput.

“Meski mirip wayang pekok (idiot), tapi duitnya banyak, rekeningnya gendut. Jadi bini Pancawala pasti terjamin luar dalam, kari mamah karo mlumah….,” jawab wayang lain yang namanya minta di off the record (jangan disiarkan), takut ditangkep dan dikriminalisasi.

Keluarga besar Ngamarta belakangan ini memang repot sekali, karena tengah mempersiapkan perhelatan perkawinan Pancawala–Pregiwati. Dalem Madukara dipasang tenda, karena resepsi mau digelar di rumah saja. Rencana semula memang di hotel bintang tujuh, tapi tak kebagian jadwal. Soalnya hotel-hotel di Ngamarta telah habis diboking DPR dan DPD untuk rapat penting. Komisi I rapat ini, komisi III rapat itu. Maklum, bukan hanya Indonesia, DPR-DPD Ngamarta juga hobi rapat dalam hotel agar memperoleh uang lebihan (komisi).

Panitia perkawinan akbar Pancawala–Pregiwati diketuai Gatutkaca sendiri. Menurut ramalan Eyang Abiyasa dari candi Saptahargo, diprediksi banyak terjadi masalah menjelang hari H perkawinan. Oleh karena itu kewaspadaan nasional harus ditingkatkan,  jangan sampai teroris Timur Tengah ikut nimbrung. Untuk jaga-jaga segala kemungkinan, Gatutkaca kini ke mana-mana suka pethentang-penthentheng bawa keris Pulanggeni. Padahal biasanya yang pegang hanya Harjuna seorang.

“Nakmas Gatutkaca, mohon keris Kyai Pulang Pergi jangan diablak seperti itu. Ketahuan kantor pajak diminta urus NPWP lho.” Haryo Setyaki mengingatkan.

“Ini bagian dari politik pamer kekuatan, paman. Siapapun yang berniat mau menggagalkan perkawinan akbar ini, baru lihat Pulanggeni langsung keder.” Jawab Gatutkaca yakin.

Di malam midadareni, dalem Madukaran nampak meriah sekali. Penjagaan juga diperketat, siapa tahu teroris anak buah Bahrun Naim ngelayap sampai ke sini. Pregiwati selaku mempelai wanita telah dipingit. Persiapan untuk ijab kobul esuk pagi sekaligus resepsi panggih, sudah ditentukan. Prabu Kresna yang micara (pintar omong), ditunjuk sebagai penyambut dari tuan rumah, mewakili Harjuna. Adapun Werkudara ditunjuk menjadi saksi akad nikah.

“Mbok jangan saya. Menjadi saksi jaman now, salah ngomong bisa naik status jadi tersangka…” Werkudara beralasan, takut jadi masalah.

“Jangan khawatir bapak, ini bukan saksi kasus e-KTP.” Gatutkaca menjelaskan, tapi dalam hatinya gondok sekali, kenapa punya ayah satu saja kok telmi (telat mikir)-nya kelewatan.

Ternyata ramalan Begawan Abiyasa nembus empat angka! Di tengah malam nan buta,  Gatutkaca ketua panitia mendadak ngantuk sekali, kemudian mak lerrrr …..ketiduran seperti Ketua DPR Setya Novanto. Bangun-bangun sudah  pukul 02.00, itu pun karena digrobyak Setyaki. Soalnya sang Bima Kunthing baru saja ditelpon raja Dwarawati bahwasanya calon pengantin pria Pancawala ditemukan tewas tertusuk keris. Gatutkaca kaget sekali. Begitu bangun kumis miliknya yang sekepel sisih langsung mencelat (soalnya cuma jepitan). Apapun alasannya, sebagai ketua panitia, dia harus bertanggungjawab.

Keluarga Pendhawa – Dwarawati malam itu berkumpul di Istana Indraprasta. Kamar tidur Pancawala telah dipasangi police line (garis polisi) kuning-hitam. Polisi bergerak mengadakan penyelidikan. Ternyata tak seruwet kasus Novel Baswedan, peristiwa kriminal ini sangat mudah diungkap. Begitu keris yang menghujam di dada Pancawala berhasil dicabut Nakula, langsung ketahuan bahwa itu pusaka Pulanggeni yang biasa disandang Gatutkaca ke sana kemari.

“Dhimas Werkudara, tangkep Gatutkaca, jangan sampai kabur ke Singgapur.” perintah Prabu Kresna.

“Siap lakukan pencekalan. Hemmm…, terlalu! Sudah punya bini cakep, adik ipar mau ditelateni juga.  Kurang ajar…..” Werkudara memaki-maki anak sendiri.

Tak sampai 30 menit Gatutkaca sudah datang. Belum juga panjtakan doa jenazah untuk  almarhum calon pengantin, dia langsung ditangkep Werkudara dan diikat rante sekalian. Melihat perubahan situasi yang demikian cepat, Gathutkaca hanya bisa pasrah. Sudah menjadi garis nasib rupanya, perjalanan hidup Gatutkaca harus mirip Kebo Ijo dalam crita babad Singosari.

“Gathot, mampus sajalah kamu. Anak hanya bikin malu orangtua saja. Rasakan sekarang akibatnya,” maki  Werkudara sambil menendang dada Gathutkaca sehingga terjengkang.

“Maaf rama, saya nggak bersalah. Ini pembunuhan karakter. Mana mungkin Gatutkaca bunuh keluarga sendiri?” kata Gatutkaca membela diri.

“Biasa itu. Koruptor di KPK juga ngaku tak bersalah, padahak sudah berompi oranye.” Lagi-lagi Werkudara mendesis.

Sudah barang tentu keluarga Ngamarta terkaget-kaget, kenapa tiba-tiba Gatutkaca berurusan dengan hukum. Malam itu juga Gatutkaca masuk Rutan Brimob. Siapapun orang dan wayangnya dilarang bezuk. Dan yang masih menjadi misteri untuk Prabu Kresna, mengapa Pulanggeni pusaka Madukara kok bisa di tangan Gatutkaca. Apakah ada barter kasus?

Untung saja dewa di kahyangan segera memberikan pepadhang (solusi). Pada  TKP (Tempat Kejadian Perkara) ternyata ditemukan KTP atas nama Sarjokesuma dari Ngastina. Nah polisi segera menangkap putra mahkota Ngastina itu. Patih Sengkuni dan Adipati Karno tak berani menghalang-halangi, takut bernasib seperti pengacara dan dokter dalam kasus Setya Novanto.

Dalam pemeriksaan Sarjokesuma mengaku bahwa dialah yang mencuri keris Pulanggeni dari tangan Gatutkaca. Semua telah menjadi jelas, sehingga satriya Pringgodani langsung dibebaskan dan direhabilitasi. Pancawala pun melalui pusaka Kembang Cangkok Wijayamulya bisa dihidupkan dan dinikahkan. Saking kesalnya, begitu bebas Gatutkaca sempat menjitak kepala Sarjokesuma saat diinterogasi 10 jam.

“Tukang fitnah, Sarjokesuma harusnya dipancung….,” kata Gathutkaca gemas.

“Ampun-ampun, nggak sengaja kok Oom.” Rengek Sarjokesuma. Lumayan babak belur dia, karena saat diperiksa tanpa didampingi pengacara.  (Ki Guna Watoncarita).