Pulang dari Hongkong, Mantan TKI ini Mampu Berdayakan Ratusan Kaum Marjinal

BOGOR (KBK) – vila putih yang terletak kaki gunung Gede Pangrango siang itu riuh oleh puluhan bocah. Mereka memadati garasi mobil yang telah diubah menjadi sebuah perpustakaan mini.

Ada yang serius membaca buku namun tak sedikit yang bercanda. Kehebohan sesekali muncul ketika buku yang mereka buka menampilkan gambar kartun.

Di teras vila yang berada di Kecamatan Caringin, Bogor, Jawa Barat itu tertumpuk keset warna-warni berjajar rapi bersanding dengan produk pemberdayaan lainnya. Ada salak pondoh, keripik jamur dan bisukuit.

Selain di Caringin, produk pemberdayaan tersbut juga sudah melanglang buana ke Belanda, Qatar, Singapura dan Batam.

“Rumah ini sengaja saya jadikan basecamp, kegiatan rutinya setiap hari minggu ada 200 anak yang biasa kami sebut kelas petani cerdas,” ujar Heni Sri Sundani (31) pendiri Komunitas Agro Edu Djampang.

Heni merupakan mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong. Ia terpaksa keluar dari kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat karena belitan kemiskinan dan buruknya kualitas pendidikan.

Selama 6 tahun di Hongkong, Heni tak hanya jadi TKI. Baginya TKI hanyalah jembatan untuk menggapai cita-cita. Di sana Heni secara diam-diam turut aktif menjadi penulis dengan nama pena Jaladara.

Bila libur, Heni selalu menyempatkan diri pergi ke perpustakaan kota. Di Hongkong Heni juga kuliah D3 IT di sebuah lembaga pendidikan
swasta.

“Di perpustakaan lambat laun saya mengenal Dompet Dhuafa (DD). Seiring berjalannya waktu akhirnya saya terlibat aktif mengikuti program-program yang diadakan Dompet Dhuafa Hongkong. Peran DD sangat strategis karena saat itu masih minim lembaga seperti DD yang menaruh perhatian kepada TKI” jelas mantan TKI yang kini telah menyelesaikan studi S2 Manajemen Pemasan di Bumi Putera.

Sepulangnya dari Hongkong pada tahun 2011, sedikitnya Heni membawa tiga ribu judul buku. Sebagai sarjana satu-satunya di Kampung Jayaraksa, Ciamis, buku-buku itu lantas Heni jadikan sebuah perpustakaan.

Kekuatan sosial media juga ia gunakan untuk menggalang donasi guna membantu pengobatan warga kampungnya yang terserang kutil disekujur tubuh. Berkat bantaun facebook, seorang dokter dari Jerman datang ke kampungnya.

Seiring berjalannya waktu apa yang dilakukan Heni terus berkembang. Dari Ciamis Heni pindah ke Desa Jampang, Parung hingga akhirnya ia mendirikan basecamp di Caringin,Bogor.

“Saya ingin lakukan sesuatu tapi tidak punya uang kecuali ilmu dengan mengundang anak untuk les. Pertama ada 15 anak kemudian berkembang hingga ribuan termasuk di luar Bogor. Semuanya yang menggerakan adalah mantan TKI seperti saya, ada di Lombok, Majenang Jawa Tengah, Ciamis dan Banjar,” ujar Heni yang pada 2017 lalu mendirikan Yayasan Enpowering Indonesia Foundation.

Di Caringin Bogor, bersama sang suami Aditia, Heni tetap menggandeng DD sebagai mitra. Setiap minggu sekali Heni selalu lakukan edukasi kesehatan, pendidikan dan pengajian termasuk layanan kesehatan gratis bagi ibu hamil.

Anak-anak petani Caringin yang sebelumnya tak berpendidikan dan putus sekolah kini bisa kembali belajar. Bagi Heni goal terbesar yang dalam hidupnya adalah berhasil mengajak orang untuk berbuat baik, dan orang baik tersebut mau mengajak kebaikan ke orang lain.

Berkat sepakterjangnya sudah tak terhitung pernghargaan yang telah disabet Heni. Heni menjargonkan kegiatannya sebagai Sarjana Pulang Kampung dan Membangun Indonesia dari Kampung.