Cerita Petani di Ibu Kota yang Gagal Panen

336 views

JAKARTA (KBK) – Setelah membenamkan kakinya ke dalam lumpur, satu ikat benih yang tergeletak di pematang sawah dipungut Raqi (55). Siang itu wanita yang telah berprovesi sebagai petani sejak dekade 80an tersebut tengah menyiapkan benih untuk disemai.

“Ini legowo ya,” ujar Raqi kepada Sani, petani lainnya yang tengah bersiap masuk ke dalam sawah. Legowo merupakan teknik menanam padi yang sering digunakan oleh petani.

Sambil berjalan mundur padi jenis ciherang itu Raqi tanam dengan apik, lurus memanjang hingga memenuhi satu petak sawah yang terletak di Rorotan, Jakarta Utara. Mendekati tengah hari, langit Ibu Kota yang sedari pagi mendung, mulai gerimis.

Meski suasana sawah menjadi adem ayem, namun rasa panas masih terasa di hati Raqi bila mengingat sawahnya yang ia rawat selama 100 hari terpaksa harus mengalami gagal panen.

Sebagai petani padi yang tersisa di Kota Metropolitan, Raqi sadar betul bahwa ancaman hama itu tetap ada. Pada musim tanam ke dua tahun lalu, delapan petak sawah yang digarap Raqi gagal panen akibat terserang hama tikus. Yang membuat hatinya semakin tersayat, sawah anak Raqi seluas empat petak pun juga mengalami nasib yang sama.

“Kemarin saya rugi Rp 20 juta karena hama tikus dan burung,” ujar Raqi kepada KBK (28/2).

“Tapi itu sudah saya relain, saya sudah ikhlas,” tambahnya.

Untuk bangkit kembali Raqi terpaksa harus membongkar tabungan dan berhutang dengan saudaranya di Pamanukan sebesar Rp 10 juta.

“Modal menanamnya saja Rp 8 juta. Kalau mau usir hama agak susah,” kata Raqi sambil melepas capingnya.

Hal serupa juga menimpa Sani, petani asal Babelan, Bekasi yang menggarap sawah di Rorotan, Jakarta Utara. Serangan hama tikus yang terjadi pada akhir tahun lalu, diakuinya sebagai serangan hama tikus terbesar sejak beberapa tahun terakhir. Akibat peristiwa tersebut ia mesti merugi Rp 15 juta.