Lika-Liku Kehidupan Petani di Kota Metropolitan

271 views

JAKARTA (KBK) – Meski jarum jam telah menunjukan pukul 9 pagi, namum matahari tampak masih malu menampakan diri. Awan mendung yang menggelayut sejak semalam, tak urung minggat kendati sudah menurunkan hujan di waktu subuh.

Meski siang itu Jakarta tampak kelabu, namun tidak demikian dengan Bawon (49). Dalam menyambut musim tanam baru, wajah Bawon tampak semringah. Tatapannya optimis,
matanya seakan berbicara bahwa benih yang akan disemainya bakal menjadi gabah kering dengan harga jual tinggi.

Usai mengenakan sepatu bot yang hampir koyak, ia melangkah mantap menuju area sawah yang terhampar luas bak permadani raksasa. Bawon merupakan satu dari puluhan petani padi yang tersisa di Ibu Kota, Jakarta tepatnya di wilayah Rorotan, Jakarta Utara.

Memasuki musim tanam baru Bawon telah menggelontorkan modal sebesar Rp 15 juta untuk menggarap 4 hektar lahan. Lahan yang digarap pun bukan milik Bawon, bersama sang Suami Wasja (58) ia menyewa lahan tersebut dari sebuah perusahaan swasta.

“Kalau panen saya baru bayar sewa, kalau nggak panen ya nggak bayar. Untuk satu hektar biaya sewanya Rp 4 juta,” tutur Bawon kepada KBK (28/2).

Dalam setahun Bawon hanya bisa merasakan dua kali panen padi. Hasilnya terbilang rendah. Tiap satu hektar hanya mendapatkan 6 ton gabah itu pun bila cuaca bersahabat.
Kalau cuaca Jakarta sedang tak menentu seperti saat ini, Bawon hanya bisa berharap agar padinya tetap bisa bertahan dari gerusan hujan.

Menurut Bawon satu kali masa tanam setidaknya memakan waktu 3 bulan dan kalau 4 hektar sawahnya bisa panen secara maksimal, sedikitnya ia bisa membawa pulang Rp 30 juta. Kini Bawon tak lagi pusing menjualnya karena tiap panen sudah ada tengkulak dari Karawang yang menyambangi sawahnya.