LEMBUSURO LENA

568 views
Dengan iming-iming hadiah Dewi Tara, Subali sangat bersemangat bertempur melawan Lembusuro.

JUMLAH wanita di kahyangan Jonggring Salaka tak sebanyak di ngercapada.  Lebih-lebih menghadapi Lebaran 1439 H ini, stoknya sungguh tidak aman. Maka setelah Dewi Tari diboyong Dasamuka  sebagai permaisuri di Ngalengka, stok bidadari tercantik di kahyangan tinggal satu, Dewi Tara. Sesuai dengan namanya, tara memang ada kaitannya dengan istilah brutto dan netto. Jika brutto berat kotor, netto berat barang, dan tara adalah berat tempat. Nah, Dewi Tara saking cantiknya memang tempat yang sangat layak dan ideal untuk menuntaskan birahi lelaki.

Tapi gara-gara Dewi Tara pula, kini Betara Guru penguasa kahyangan Jonggring Salaka pusing, karena diteror oleh raja Lembusura – Maesasura dari Guwa Kiskendo. Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu mereka melempar bom karbid tepat di alun-alun Repat Kepanasan. Teroris dari Guwa Kiskendo itu memang sekedar mau bikin kaget saja, sebab namanya dewa kena ledakan takkan juga mati.

“Tenang saja adhi Guru, Lembusuro-Maesasuro memang sekedar bikin kaget wayang kahyangan. Mereka tak seganas dan sekejam teroris di Indonesia,” kata Patih Narada menghibur.

“Memang tak bikin mati, tapi gerakan amaliah mereka bikin saya tidak bisa tidur. Jedar-jedor tiap jam, lalu kapan saya istirahat?” keluh SBG (Sanghyang Betara Guru).

Salah satu bom karbid itu ada yang gagal meletus. Ketika diambil dewa Betara Penyarikan ternyata terdapat tulisan, yang intinya mereka menginginkan Dewi Tara menjadi permaisurinya. Padahal, sesuai namanya mereka raja dan patih yang berkepala lembu dan kerbau,  mana mungkin kahyangan merelakan bidadari tercantiknya kawin dengan lembu atau kerbau. Nanti jika punya anak, lalu seperti apa bentuknya?

“Sangat tidak masuk akal. Sudah bentuknya raksasa, kepala lembu pula, kok pengin mengawini bidadari, itu kan bakal ngrusak turun (merusak generasi),” gumam Betara Guru.