Perkutut & Keris Fantastis

Punya rumah joglo dengan peliharaan burung perkutut, kebanggaan orang Jawa.

BURUNG perkutut dan keris tak bisa dipisahkan dengan kehidupan orang Jawa. Banyak dari mereka yang mempercayai bahwa kedua barang itu memilik tuah. Sebagai komoditas, harganya menjadi sangat relatif. Bagi yang menyukai, meski harganya ratusan juga bahkan miliaran, dibela-belaian juga. Padahal bagi yang tidak suka, dikasih gratisan juga ogah. Sebab hobi akan keris dan perkutut menjadikan seseorang “tersandera” dalam hidupnya.

Beberapa hari lalu di Blitar diselenggarakan pameran keris dalam rangka Bulan Bakti Bung Karno. Di situ ada ditemukan sebilah keris yang harganya mencapai Rp 3 miliar, namanya Kyai Sabuk Inten. Ini tak jauh beda dengan burung perkutut yang sudah kung (sudah jadi) harganya juga sampai ratusan juta. Bayangkan, harga mentahnya saja sampai segitu, apa lagi bila sudah dalam kondisi digoreng, tentunya lebih menggila lagi.

Keris bernama Kyai Sabuk Inten, mengingatkan kita pada cerita silat “Keris Nagasasra-Sabuk Inten” karya SH Mintardjo dari Yogyakarta. Cerita silat berlatar belakang kemelut di kerajaan Demak itu dimuat di harian Kedaulatan Rakyat sejak tahun 1963-an dan baru tamat tahun 1965-an. Ketika dibukukan menjadi 29 jilid. Tokoh sentralnya, Mahesa Jenar, yang mengemban misi mencari keberadaan keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Harga keris –sebagaimanaKyai Sabuk Inten– dan perkutut demikian fantastis, hanya akan dipercayai oleh orang-orang yang memiliki hobi yang sama. Bagi orang awam, apa lagi tidak menyukai, jangankan beli, dikasih gratis saja pasti bilang ogah. Royal amat, beli keris sampai Rp 3 miliar, beli burung perkutut sampai ratusan juta. Mending beli rumah atau mobil, dihuni nyaman, dinaiki juga angler (nyaman).

Di zaman modern sekarang ini, orang yang non Jawa pun banyak yang suka memelihara keris, bahkan mengoleksinya. Ambil contoh, Fadli Zon, Wakil Ketua DPR. Meskipun dia orang Minang, tapi mengoleksi keris sampai seribuan. Diberinya dari yang berharga Rp 300.000,- hingga Rp 15 juta. Salah satu kerisnya yang selalu berada dalam mobilnya, adalah Kyai Njunjung Drajat. Agaknya dia meyakini, dengan membawa keris tersebut derajatnya terus meningkat.

Tapi orang Jawa masa lalu, memiliki keris dan perkutut hukumnya seperti wajib, karena itu identitas diri bahwa dirinya seorang priyayi. Dua benda itu pun belum sempurna. Bila ingin disebut priyayi Jawa tulen, tak hanya memiliki perkutut (kukila) dan keris (curiga), tapi harus memiliki pula istri (garwa), rumah (wisma) dan kuda (turangga). Dengan aset 5 macam itulah, barulah disebut priyayi Jawa seutuhnya.

Ngenut jaman kelakone (mengikuti perkembangan zaman), priyayi Jawa masa kini, menggantikan kukila dengan tape rekorder, rekaman musik dengan sound sistem nan canggih. Turangga diadaptasikan pakai mobil Mercy bagi yang mampu atau cukup Daihatsu model roti tawar (minikab) bagi yang rejekinya pas-pasan. Sedangkan curiga digantikan dengan senjata api bagi yang mampu mengurus izinnya di Kepolisian.

Yang tak tergantikan hanyalah garwa dan wisma, dari zaman baheula sampai zaman now sekarang, orang tetap membutuhkan istri dan rumah yang sebenarnya tanpa bisa dikompensasikan dalam bentuk lain. Cuma bagi yang kuat ekonominya, koleksi rumah banyak-banyak sebagai sumber investasi, meskipun dirinya sendiri sebetulnya tak lagi membutuhkan.

Begitu juga soal garwa. Yang materil dan onderdilnya sama-sama kuat, banyak yang menikah lebih dari satu, bahkan sampai empat. Tapi ada juga yang secara materil tidak mampu, tapi dorongan onderdil begitu kuat, akhirnya memaksakan diri sebagai lelaki istikomah, dalam arti: istri tiga ngontrak rumah. (Cantrik Metaram).