SEMAR BOYONG

1.228 views
Dengan tewas dan hilangnya jazad bidadari-bidadari itu, tiba-tiba muncul Dewi Kanastren yang sudah begitu lama dirindukan oleh Ki Lurah Semar.

SEBAGAI raja Purwonegoro yang hak keungannya sebulan Rp 100 juta Prabu Mahendradenta banyak harta dan wibawa. Dia punya sejumlah rumah mewah di Pondok Indah, ada pula harta bergerak dan yang bergerak-gerak. Sayangnya, dalam usia 40 tahun dia masih jomblo, belum ada perempuan yang mau dipersuntingnya. Walhasil, tiap malam dia kebanyakan bengong, lalu kesepiannya itu ditumpahkannya dengan main gaple atau catur bersama jubir Istana, Tumenggung Jaya Dongkolin.

Kenapa begitu, karena faktor tampang yang tidak menunjang. Sebab Prabu Mahendradenta berwujud raksasa. Berulangkali dia melamar peragawati dan fotomodel yang ayu nan syahdu, sayang kesemuanya menolak dan tidak sanggup jadi first lady di Kerajaan Purwonegoro. Malah ada di antara gadis yang diincar Prabu Mahendra­denta langsung stuip begitu melihat tampang Sang Prabu.

“Aku punya suami kayak dia, amit-amit. Bisa rusak keturunan saya.”

“Kawinin saja sama ayam kalkun,” kata rakyat oposan yang nyinyir.

Suatu malam Prabu Mahendradenta bermimpi sampai terbasah-basah, bertemu dengan Dewi Kanastren yang cantik jelita macam penyanyi Syahrini. Dalam mimpi tersebut seakan Prabu Mahendradenta sudah resmi menjadi suami istri dengan putri dari Kahyangan itu. Maka begitu bangun tidur dan langsung mandi, tidak lupa menggosok gigi,  Mahendradenta panggil Patih Gagaklodra.

“He Patih Gagaklodra, raja macam gue pantas nggak punya bini bidadari Dewi Kanastren dari Kahyangan?” kata konglomerat dari Purwonegoro itu sambil nggado (makan tanpa nasi) kalkun panggang.

“Pantas sih pantas, Baginda. Tapi sayang, Dewi Kanas­tren baru saja dipersunting Ki Lurah Semar dari Klampis Ireng Permai. Telat sampeyan…!”

“Keciiil, itu! Lurah paling-paling cuma golongan III-A sedangkan sAya VI-F, masak Kanastren nggak ngiler lihat gue. Lu berangkat ke sana, rebut istri Semar itu untuk gue. Mengerti Patih?”  Ulah Prabu Mahendradenta makin galak.