Zohri Sang Pelari Cepat

Lalu Zohri berhasil jadi juara dunia lari 100 meter, sementara anak muda sebangsanya banyak yang pinter kari dari tanggungjawab.

KECUALI badminton, kita dalam olahraga tingkat dunia, kebanyakan hanya jadi penonton, kemudian membanggakan tim asing, termasuk Piala Dunia semalam. Maka kemenangan Lalu Zohri sebagai pelari cepat dunia di Finlandia, sungguh mencuri perhatian publik di saat semua mata tertuju ke Piala Dunia. Kita baru sadar, ternyata ada putra bangsa yang bisa jadi juara lari tingkat dunia. Sebab banyak generasi muda sekarang justru jadi pelari cepat dalam hal tanggungjawab dan kenyataan!

Pesta olahraga tingkat dunia, selama ini kita baru bisa berbangga diri di cabang badminton, lewat Thomas Cup, Uber Cup dan All England. Dari sini muncul tokoh legendaris sebagaimana Ferry Soneville, Minarni, Rudi Hartono, Retno Kustiah, Icuk Sugiarto, Ivana Lie, Taufik Hidayat, dan lain-lainnya.

Tapi di cabang olahraga lainnya, apa lagi sepakbola, kebanyakan kita jadi penonton. Dalam Piala Dunia yang baru saja usai, kita terpaksa membanggakan jagoan asing. Gubernur Anies misalnya, dalam babak final dia jagokan Kroasia dengan alasan semangat perubahan.  Ternyata yang menang Prancis. Rupanya dalam sepakbola semangat perubahan tak bisa dipersenjatai dengan politik identitas, sebagaimana Pilkada DKI tempo hari.

Yang hebat justru Fahri Hamzah. Meski dia resminya Wakil Ketua DPR, tapi bisa juga jadi peramal. Beberapa jam sebelum Kroasia-Pancis berlaga, dia memprediksi bahwa yang menang Prancis. Katanya, jika Prancis menang, maka incumben Jokowi akan menang pula di Pilpres 2019. Ternyata Prancis yang menang. Bagaimana dengan Jokowi? Ya tunggu saja sampai Pilpres berlangsung April 2019.

Di tengah hiruk pikuknya Piala Dunia di Russia, seorang anak muda dari NTB, Lalu Mohammad Johri, mencuri perhatian publik. Dalam  Kejuaraan Atletik Dunia U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia, 10-15 Juli 2018, dia berhasil menjadi juara lari 100 meter putra dengan waktu 10,18 detik.

Pemerintah pun mengelu-elukan bersama rakyat. Presiden Jokowi mau mengundang ke Istana, Kementrian PUPR memugar rumah tinggalnya di Lombok Utara, di samping rumah lain hadiah pemerintah. Gubernur NTB Zainul Majdi juga menjanjikan hadiah Rp 200 juta. Bahkan ada tawaran menjadi PNS dan TNI tanpa seleksi.

Bangsa Indonesia memang dibuat terhenyak. Bocah dari Pamenang, Lombok Utara (NTB) itu ternyata “nyolong pethek” (di luar dugaan) mampu mengharumkan nama RI di luar negri lewat kecepatan lari. Jarak 100 meter bisa ditempuh dengan waktu 10 detik lebih sedikit. Luar biasa, karena semua terjadi di dunia nyata, bukan dongeng pengantar tidur.

Kalau dalam dunia wayang, prestasi Lalu Zohri belum apa-apanya bila dibanding dengan Raden Bima atau Werkudara. Dia bisa menyeberangi kali Serayu dengan satu langkah. Bahkan dia bisa lemparkan musuhnya yang kalah hanya dengan kibas dan sampailah dia ke negeri asal tanpa lewat proses Imigrasi. Dalam dunia wayang memang ada ilmu yang dinamakan aji Sepi Angin, yang bikin pemiliknya bisa berlari cepat.

Dalam dunia nyata, banyak cerita tentang ulama yang punya karomah, sehingga bisa berjalan cepat laksana terbang. Di Solo misalnya, ada ulama tempo dulu namanya Kyai Minhajul Ngabidin, dia rajin Jumatan di Mekah. Konon katanya, setipa kembali dia bawa kurma mentah yang masih ada getahnya. Bayangkan, Mekah-Solo hanya dicapai dalam beberapa menit, padahal kini minimal 9 jam Jakarta – Mekah lewat udara.

Bahkan di Purworejo tahun 1930 ada cerita, seorang Kiyai yang rajin menghadiri Muludan di Ponpes Lirboyo (Kediri), berangkat ke sana cukup dengan ilmu Enthung Macan. Dia bisa terbang cepat, Purworejo – Kediri dicapai hanya dalam beberapa menit. Pernah Kiyai itu mengajak seseorang, caranya hanya digendong belakang dan harus merem selama perjalanan. Hanya dalam beberapa menit tahu-tahu sudah sampai rumah.

Ilmu itu bagi orang sekarang, terasa janggal. Buktinya, Lalu Zohri lari cepat 100 meter selama 10 detik sudah bikin heboh. Soalnya anak sekarang jarang yang bisa lari seperti itu. Kebanyakan hanya pinter lari dari tanggungjawab dan lari dari kenyataan. Menghamili gadis tak mau tanggungjawab, tak lulus ujian bunuh diri. (Cantrik Metaram)