Lagak Kaya Di Sukamiskin

LP Sukamiskin, rumah penjara warisan Belanda di Bandung. Kini jadi "gudang" penampungan napi korupsi.

 LP SUKAMISKIN Bandung kini menjadi “gudang” penampungan napi korupsi. Pas sekali mereka di sana, karena ulahnyalah banyak rakyat yang terus hidup miskin. Ironisnya, meski sudah tinggal di LP Sukamiskin, mereka masih berlagak kaya. Buktinya, tak mau menderita di sel-sel pengap dan sempit, beberapa di antaranya berani nyogok beratus-ratus juta rupiah ke Kepala Lapas agar dapat fasilitas istimewa baik tempat maupun kebebasan.

Jumat malam lalu (20/07) KPK mengadakan OTT di LP Sukamiskin. Kalapas Wahid Husen ditangkap bersama 4 orang lainnya, termasuk artis Inneke Kusherawati istri terpidana korupsi proyek Bakamla, Fahmi Darmawansyah. Diduga dan tidak jauh dari itu, Kalapas sengaja memperjual-belikan kebebasan dan fasilitas lebih, demi memperoleh kekayaan. Buktinya, baru 4 bulan menjabat sudah punya 2 mobil bagus. Padahal hartanya yang tertera di LHKPN hanya Rp 600 juta.

Dari OTT tersebut kemudian terungkap, Tubagus Wawan koruptor van Banten yang suami Walikota Tangsel Airin; serta Fuad Amin eks Ketua DPRD Bangkalan (Madura); juga menikmati fasilitas sama dari Kalapas. Bahkan saat OTT berlangsung, dua orang ini tak berada dalam selnya. Katanya sakit, tapi dicek KPK di RS tak kelihatan batang hidungnya. Berarti mereka bebas “nggayus” keluar LP untuk bercengkerama dengan keluarganya.

Sedikit mengingatkan, Tubagus Wawan ini memang bagian dari dinasti eks Gubernur Banten, Ratu Atut Khosiah. Dia adalah adik kandung Ratu Atut yang kini dipenjara wanita LP Pondok Bambu. Dia bisa memanfaatkan jabatan kakak dan istrinya, Airin Rahmidiani Walikota Tangsel, sehingga korupsi proyek Puskesmas sampai Rp 9,6 miliar. Saat belum kena batunya, di Tangsel dia disebut Walikota Malam karena bisa ngatur tender dari rumahnya, di malam hari. Seakan dia sendiri yang jadi Walikota.

Adapun Fuad Amin, dia bekas Bupati Bangkalan dua periode, berlanjut jadi Ketua DPRD. Meski sudah bukan Bupati, dia terus terima sogok dari para kontraktor, karena yang jadi bupati anak sendiri. Tentu saja si anak tak bisa apa-apa, karena melawan bapak bisa kualat, dikutuk bisa berubah jadi RW, bukan lagi bupati.

Dia punya kekayaan sungguh ora umum, asetnya saat dihitung KPK tidak kurang dari Rp 414 miliar. Maklumlah, saat jadi Bupati dan Ketua DPRD, rasanya Bangkalan itu milik sendiri. Duit sogok masuk silih berganti. Dia pernah mengatakan, suap itu rejeki dari Allah Swt. Koplak nggak itu? Ya memang betul, tapi sebagai Kepala Daerah yang disebut KH di kampungnya, masak barang haram ditilep juga? Apa dia lupa nash Qur’an: Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu. (surat Albakoroh ayat 168).

Untuk menebus kesalahannya, para koruptor sebagaimana Tubagus Wawan, Fuad Amin dan Fahmi Darmawansyah disimpan di “gudang” LP Sukamiskin. Tapi sudah terbiasa hidup makmur jibar-jibur (mewah), tiba-tiba harus makan jatah LP dan terampas kebebasannya, tersiksa betul. Dengan sisa-sisa uangnya yang belum disita negara, mereka membeli fasilitas dari Kepala LP.

Ironis memang, meski sudah dimiskinkan dengan disita aset-asetnya, para napi korupsi itu masih kaya juga. Fahmi Darmawansyah misalnya, masih simpen uang di selnya Rp 139 juta. Kamarnya disulap pakai AC dilengkapi TV segala, kapan saja bebas keluar LP untuk ketemu istrinya. Bukan dia saja, napi berduit banyak yang melakukan seperti itu. Maklumlah, ibarat HP kan perlu dicas juga sedangkan “charger”-nya di luaran.

Adapun Fuad Amin yang semula dicurigai “nggayus” di luar LP, ternyata dirawat di RS Boromeus karena muntah darah. Masak sih muntah darah? Bagi dia yang pernah kaya raya dari hasil korupsi, muntah uang juga pantas-pantas saja. Hoeekk…. segepok 50.000-an, hoeeekkk….. 100.000-an. Namanya juga koruptor kaya raya.

Kisah napi koruptor beli fasililitas LP, sebetulnya itu cerita lama yang kembali berulang. Semua tergantung dari Kepala LP itu sendiri, mental dan imannya kuat nggak. Jangan sampai Kalapas diplesetkan jadi: kadang khilap liat uang kertas. (Cantrik Metaram)