ICJR Sayangkan Anak di Jambi Divonis Penjara karena Gugurkan Bayi

115 views
Foto : Ilustrasi

JAMBI – Seorang anak perempuan di Jambi divonis enam bulan penjara karena menggugurkan kandungan yang sudah berumur enam bulan.

Banyak pihak yang menyayangkan vonis tersebut karena janin itu merupakan akibat perkosaan abangnya sendiri.

Peristiwa pengguguran bayi tersebut diketahui warga desa Pulau, kecamatan Tembesi, Batanghari, Jambi, akhir Mei lalu yang diawali  dengan temuan janin dalam kondisi mengenaskan di kebun kelapa sawit di daerah itu.

Penyelidikan polisi kemudian lebih mengejutkan lagi, sebagaimana dihimpun VOA Indonesia, karena ternyata bayi itu merupakan hasil aborsi seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang menjadi korban perkosaan abangnya sendiri.

Pengadilan Negeri Muara Bulian pada hari Kamis (19/7/2018) menjatuhkan vonis enam bulan penjara terhadap WA, anak perempuan yang malang itu, dan dua tahun penjara terhadap AA, abang WA.

Keduanya juga diperintahkan untuk menjalani rehabilitasi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak LPKA. Vonis ini lebih rendah dari tuntutan jaksa sehari sebelumnya yang menuntut WA hukuman satu tahun penjara dan AA tujuh tahun penjara.

Meskipun vonis hukuman terhadap WA, pelaku aborsi yang juga korban perkosaan dan incest, lebih rendah, tetapi banyak pihak mengecam putusan itu.

Direktur Eksekutif Institute Criminal Justice Reform ICJR Anggara mengatakan vonis pengadilan itu kurang tepat.

“Anak sekecil itu diperkosa tentunya belum tahu ia hamil. Apalagi perkosaan itu dilakukan di dalam lingkungan keluarga, tentu ia tidak bisa mencari perlindungan atau bercerita secara bebas di lingkungannya. Pengadilan dapat saja memutuskan bahwa ia bersalah karena melakukan aborsi, tetapi melihat faktor-faktor penyebab yang mendorong ia melakukan perbuatan itu maka apakah ia harus dihukum karena perbuatannya? Saya kira ini yang tidak tepat. Ada faktor-faktor di luar akal sehat sehingga ia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Perbuatannya mungkin terbukti benar, tapi ia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban,” jelas Anggara.