Kopi Solusi Kali Item

Karikatur tentang penyelesaian bau kali Item yang anyir. Praktis dan ekonomis. Rep: Pos Kota)

RABU kemarin (25/07) Komisi X DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat soal persiapan Asian Games ke 18 (AG-18). Mitra RDP tentu saja Pemprov DKI dan Pemprov Sumsel, karena merekalah yang ketiban sampur jadi penyelenggara pesta olahraga 4 tahunan se Asia itu. Jawaban Gubernur Sumsel Alex Nurdin sangat meyakinkan, sementara jawaban Wagub DKI Sandiaga Uno masih ngambang. Maklumlah, urusan DKI Jakarta lebih banyak ketimbang Sumsel. Dan, problem kali Item dekat Wisma Atlet Kemayoran sungguh bikin kesel. Tambah kesel dan ngeganjel, ada yang memberi solusi, bau busuk Kali Item dinetralisir saja dengan kopi. Bener nggak itu?

Indonesia memperoleh kepercayaan sebagai penyelenggara AG-18 adalah sebuah kehormatan besar. Semoga ini mengulang sukses AG-4 yang juga diselenggarakan di Jakarta tahun 1962, di era Presiden Sukarno. Kita tentu sangat optimis, karena tahun 1962 yang kondisi ekonomi kita masih sulit saja mampu, apa lagi sekarang. Dulu dana infrastruktur dibantu Soviet, kini Indonesia cukup menganggarkan Rp 6,3 triliun dari APBN.

Dan inilah RDP di DPR itu. Gubernur Alex Nurdin dengan santai menjawab pertanyaan Komisi X bahwa semua persiapan sudah selesai, rakyat Palembang pun bergembira, para atlet dan oficial bakal nyaman di Wisma Atlet Jakabaring. Sebaliknya Wagub DKI Sandiaga Uno, dia optimis persiapan akan selesai tanggal 31 Juli mendatang. Lalu katanya, “Mari kita berdoa, karena semuanya Allah Swt juga yang menentukan.”

Dari kata-kata Wagub DKI tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa hingga kemarin Jakarta sebagai tuan rumah utama AG-18 masih berusaha untuk siap, karena Sandiaga Uno pada akhirnya berserah pada kuasa Sang Pancipta. Sebagai bangsa yang beriman, asal ketemu ungkapan  bernada “Insya Allah” memang kita tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Awalnya, menghadapi Asian Games ke-18 yang dikhawatirkan persiapannya adalah Palembang. Tapi justru terbalik, DKI Jakarta yang malah masih kedodoran. Tapi kita harus memaklumi, dalam AG-18 ini beban Jakarta lebih besar ketimbang Palembang. Padahal yang diurus Gubernur Jakarta tak hanya AG-18 doang.

AG-18 tinggal 3 minggu lagi, tapi sejumlah infrastruktur belum selesai. Sampai-sampai Kementrian PUPR ikut turun tangan sendiri untuk membenahi stadion GBK. Untuk ngejar waktu, pengecatan trotoar Jl. Thamrin-Sudirman pun digerebek. Ternyata salah data. Yang dicat bukan 43 Km, tapi cuma 4,3 Km.

Tapi yang tak dinyana tak diduga, Kali Item di dekat Wisma Atlet Kemayoran juga bikin pusing. Berbau busuk akibat pencemaran kali itu sendiri. Dikhawatirkan nantinya ribuan atlet yang menghun di situ bisa muntah-muntah karenanya. Jika waktu masih longgar bisa diatasi dengan pengerukan. Tapi ini, pembukaan AG-18 tinggal tiga minggu lho.

Maka penyelesaian cara darurat ditempuh. Kali Item cukup ditutup dengan jaring. Di samping untuk mengurangi bau, pemandangan kotor kali tersebut juga tak terlihat lagi. Tapi faktanya bau masih menyengat, bahkan di berbagai tempat jaring itu sobek, bahkan ada yang jadi tempat pembuangan sampah. Bagaimana sih warga ini, kok demen sekali bikin Gubernur Anies Baswedan jadi pusing tujuh keliling.

Lalu bagaimana harus mengatasinya? Tenang, ada 3 solusi jitu untuk mengatasi. Selain waktu cepat, juga tidak perlu mengeluarkan anggaran besar. Misalkan besarpun, dijamin takkan menyaingi gaji 74 pegawai TGUPP DKI selama setahun. Masalahnya, siap tidak untuk ngeyel, demi melawan logika publik.

Ingat mayat yang penguburannya tidak segera karena akan dimakamkan di Jawa misalnya. Biasanya untuk menetralisir bau, seputar peti mati itu ditaburi kopi. Nah, itui perlu dicoba, merk apa saja boleh, yang penting bukan kopi paste atau fotokopi. Tapi karena kali itu panjang dan lebar, perlu disediakan  berton-ton kopi, karena setiap meterpesaginya membutuhkan paling tidak 1 Kg kopi.

Alternatif kedua, panggil Sangkuriang dari bumi Periangan. Dia kan tokoh legendaris dari Pasundan, yang mampu menciptakan perahu dan telaga dalam semalam. Ketimbang capek pasang waring atau tebar kopi, Sangkuriang saja suruh memindahkan Wisma Atlet itu ke lokasi lain, misalnya Danau Sunter. Pasti beres itu barang!

Jika Sangkuriang kecapekan menggotong gedung Wisma Atlet dari Kemayoran ke Sunter, inilah alternatip ketiganya. Gubernur DKI bisa minta tolong Raden Sokasrana dari dunia perwayangan. Adik Sumantri ini terkenal kuat, sehingga mampu memindahkan Taman Sriwedari dari Magada ke Maespati hanya dalam tempo sekejap. Selesai kan? (Cantrik Metaram).