Lebih dari 6.000 Bayi Harus Hidup di Pengungsian Gempa Lombok

Kondisi bayi yang lahir dan tinggal di pos pengungsian Desa Gelangsar, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, NTB/ Pemkab Lombok Barat via Republika

LOMBOK – Pascagempa Lombok, ada sebanyak lima bayi yang terpaksa harus lahir di  pos pengungsian Desa Gelangsar, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Menurut Kepala Desa Gelangsar, Abdurrahman, setidaknya ada lima bayi yang lahir di tenda dan saat ini terpaksa hidup seadanya di pengungsian.

“Rumah mereka sudah hancur. Awalnya cuma rusak ringan, tapi gempa yang terakhir Ahad (19/8) membuat rumah mereka hancur,” kata Abdurrahman.

Di Desa Gelangsar, sekira 821 rumah rusak akibat gempa. Rumah-rumah tersebut sudah tidak mungkin mereka perbaiki seadanya lagi karena rusak berat. Sisanya kurang dari seribu rumah masih bisa diperbaiki karena hanya rusak ringan atau sedang.

Sementara menurut Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid, ada  6.119 bayi lainnya saat ini terpaksa mendiami tenda-tenda terpal yang dibangun orang tuanya dengan seadanya.

“Angka tersebut menjadi lebih besar lagi bila diakumulasi dengan jumlah balita yang sebanyak 25.290 balita,” ujar Fauzan.

Fauzan menilai, angka tersebut akan semakin bertambah karena saat ini menurut data Dinas Kesehatan Lobar, ada 3.510 ibu hamil yang sedang mengungsi. Kondisi tersebut membuatnya sangat prihatin.

“Ini salah satu alasan kenapa kita butuh hunian sementara (huntara). Bayi-bayi ini yang paling rentan terhadap cuaca,” kata Fauzan, dikutip Republika.co.id.