Disastronomic; Membaca Keterkaitan Ekonomi dan Bencana

Kondisi Palu pasca gempa yang diambil dari udara oleh Relawan Dompet Dhuafa, 1 Oktober 2018.

Bencana tentu saja berdampak terhadap ekonomi dan pertumbuhan sebuah negara. Dampak itu tergantung dari besar dan kecilnya, sesuai dengan kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. Dalam kacamata ekonomi makro bencana selalu berdampak buruk, karena berkaitan dengan menurunnya produksi.

Sesuai dengan teori ekonomi pembangunan, modal dan produktivitas tenaga kerja sangat berkaitan. Ketika infrastruktur terkena dampak bencana, beban modal tentu saja bertambah lebih besar. Di samping itu, kemunculan korban juga menjadikan produktivitas tenaga kerja menjadi tertekan (E. G., Solow 1956 Denison 1967).

Semua jenis bencana selalu dapat mengganggu rencana investasi jangka panjang, baik fisik maupun pembangunan sumber daya manusia. Alokasi dana yang semula digunakan untuk investasi, “terpaksa” dialihkan untuk membiayai relief dan rehabilitasi. Meski tidak dapat dinafikan pula, bahwa kegiatan relief, rehabilitasi, dan bahkan rekonstruksi juga merupakan kegiatan yang dapat menjalankan roda ekonomi.

UNDP (United Nation Development Program) merilis, bencana yang terjadi dalam dua dekade terakhir telah menimbulkan kerugian ekonomi sebesar US$ 2 triliun. Angka ini setara dengan 11 kali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2018 yang mencapai Rp 2.220 triliun. Ini belum termasuk potensi kerugian pendaatan rumah tangga yang berpendapatan rendah, serta kerugian pelaku usaha informal, yang ditaksir mencapai US$ 3 triliun.

Sekedar gambaran, gempa besar yang melanda Jepang pada tahun 2011 telah menyebabkan penurunan produksi kendaraan di Thailand sebesar 20%. Itu karena terhambatnya pasokan suku cadang dari negara Sakura. Demikian pula banjir di Chao Phraya, Thailand pada tahun yang sama. Bencana ini menyebabkan 451 pabrik di Thailand menghentikan operasinya. Bayangkan berapa kerugian ekonomi yang ditimbulkan.

Masih dari sumber yang sama, kerugian ekonomi karena bencana meningkat cukup besar dari tahun 2010 ke 2011, dari US$138 miliar menjadi US$371 miliar. Sementara pada tahun 2012 kembali turun menjadi US$138 miliar. Para ahli memperkirakan, pada 2030 kerugian ekonomi karena bencana diprediksi mencapai US$431 miliar.