Disastronomic; Bencana dan Kemiskinan

Tim Respon Dompet Dhuafa melakukan evakuasi bersama tim kemanusiaan lainnya. Foto: DMC

 

Bencana alam adalah faktor kemiskinan yang tidak dapat diprediksi kedatangannya. Bencana memiliki daya rusak yang hebat, tidak hanya menghancurkan harta benda dan menghilangkan nyawa manusia tetapi juga dapat menghancurkan tatanan sosial yang sudah berlaku selama bertahun-tahun. Kehancuran itu terjadi hanya dalam hitungan menit.

Hilangnya aset (tempat tinggal, alat produksi maupun lahan kerja) dalam waktu yang sangat cepat diyakini menjadi faktor penting yang memicu terjadinya kerentanan ekonomi. Kondisi ini bisa mengancam suatu komunitas atau warga menjadi jatuh miskin.

Masyarakat yang terkena bencana akan mengalami beberapa kerentanan secara sosiologis antara lain, 1) hilangnya sistem sosial yang telah mapan. Tuntutan untuk membuatnya pulih tentu membutuhkan pendampingan agar mereka dapat dengan segera bangkit dari keterpurukan. Karena pada hakekatnya masyarakat korban bencana dalam kondisi sakit secara sosial hanya dapat diobati dengan proses sosial lagi. 2) Hilangnya solidaritas sosial yang telah mapan. Ancaman dari hilangnya solidaritas sosial tersebut bisa mengakibatkan timbulnya dorongan bagi individu untuk berbuat jahat. 3) Terkurasnya mobilitas sosial sehingga membuat masyarakat akan kehilangan kebiasaan yang dilakukan. Ancamannya dapat berupa hilangnya kesempatan dalam mencari kebutuhan hidup.

Kalau kita coba melihat dari aspek kesejahteraan hidup, masyarakat korban bencana sangatlah rentan. Kondisi yang demikian disebabkan hilangnya harta benda yang mereka miliki. Selain itu, usaha pemenuhan kebutuhan hidup akan terganggu mengingat mata pencaharian yang selama ini dilakukan ikut rusak akibat adanya bencana.

Kita bisa lihat para petani yang terpaksa gagal panen karena adanya bencana banjir. Tidak sedikit pula pengusaha kecil hingga menengah yang terpaksa gulung tikar karena aset yang dimiliki habis akibat bencana yang melanda.

Laporan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasific misalnya, menyebutkan bahwa gempa di Nepal tahun 2015 lalu mengakibatkan angka kemiskinan naik antara 2,5 hingga 3,5 persen. Data tersebut menguatkan laporan IRDR (Integrated Research on Disaster Rich) dan ICSU (International Council for Science) tahun 2014, yang meneliti sekitar 2.454 kota di seluruh dunia menunjukkan, dalam rentang tahun 2009-2014, bencana-bencana yang terjadi mengakibatkan kenaikan kemiskinan ekstrim hingga 3,6 persen dan menurunkan IPM hingga 0,8 %.

Menyadari begitu besarnya dampak yang harus diterima oleh para korban bencana tentu sudah menjadi keharusan dilakukan penanggulangan bencana secara terpadu. Semua pihak juga harus lebih berhati-hati dalam menjaga lingkungan dan memantapkan kesadaran serta memiliki kesiap-siagaan yang tinggi dalam menghadapi bencana.

Dalam setiap uraian mengenai hubungan kemiskinan dan bencana alam, pihak pejabat pemerintahan selalu membuat uraian terbalik, yaitu, bahwa bencana merupakan salah satu faktor yang menghambat pemberantasaan kemiskinan. Dulu, seorang menteri koordinator kesejahteraan rakyat, dengan jelas menuding bencana sebagai penghambat program pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan.

Sebaliknya, sangat sedikit sekali analisis yang mengungkapkan kenyataan bahwa orang miskin merupakan “makanan paling empuk” dari setiap bencana alam. Ada yang mengatakan, bencana alam tidak akan pernah melihat siapa korbannya, entah orang miskin atau kaya. Pernyataan itu ada benarnya. Tetapi, kenyataan menunjukkan fakta lain, bahwa dalam berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia dan negeri-negeri lain, orang miskin selalu menjadi paling rentan untuk menjadi korban bencana.

Amukan gunung Merapi yang terjadi beberapa tahun lalu mengkonfirmasi kebenaran dari kesimpulan di atas. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan imbauan agar rakyat meninggalkan daerah-daerah yang dianggap tidak aman dari erupsi Merapi, sebagian masyarat tetap memilih untuk bertahan atau bolak-balik ke kampungnya guna memastikan keadaan ternaknya.

Ternak, bagi masyarakat di sekitar Merapi, adalah sumber penghidupan mereka. Mereka kembali ke lereng Merapi lantaran sapi-sapi itu merupakan satu-satunya harta benda yang mereka miliki. Setelah memberi pakan pada ternaknya, mereka kembali ke pengungsian. Tapi, apa daya, bencana datang tanpa disangka-sangka.

Demikian pula dengan rakyat yang ditinggal di sepanjang garis pantai di Kepulauan Mentawai. Sebagian besar warga yang tinggal di sepanjang garis pantai adalah nelayan dan mereka yang bergantung secara ekonomis pada kegiatan wisata.

Beberapa faktor yang menyebabkan rakyat miskin menjadi korban paling parah dari bencana alam dapat diruaikan sebagai berikut; 1) Bagi rakyat miskin, karena tekanan-tekanan ekonomis yang sangat berat dan bersifat darurat, memiliki sedikit sekali pilihan-pilihan untuk memilih atau tinggal di daerah yang aman. 2) Karena posisi ekonomi dan keterbatasan aksesnya terhadap sumber daya (alat transportasi, saluran komunikasi, dll), maka orang miskin sangat sulit untuk melakukan evakuasi diri ketika terjadi bencana. 3) Karena orang-orang miskin kesulitan mengakses pendidikan dan informasi, sehingga mereka kurang pengetahuan pula untuk mengenali tanda-tanda bencana dan sedikit tahu cara menghindarinya.

Sedikit pilihan bagi orang miskin sehingga terpaksa mendiami daerah-daerah berbahaya, maka geopolitik kemiskinan punya keterkaitan dengan geografi bencana. Bukankah sudah biasa dikatakan, bahwa orang miskin yang punya keterbatasan hanya bisa bergantung kepada kemurahan alam di sekitarnya.

Inilah yang terlupakan oleh pemerintah. Alih-alih memikirkan cara untuk memindahkan orang miskin dari daerah-daerah rawan bencana, pemerintah justru menghancurkan sarana-sarana produksi mereka. Sebagian besar orang miskin berpindah dari lahan atau tempat-tempat produktif karena kebijakan pemerintah, seperti PHK massal, penggusuran, dan perampasan tanah. Disamping kebijakan-kebijakan pemiskinan lainnya.

Bencana alam bukan hanya merenggut harta dan sumberdaya ekonomi masyarakat. Tetapi juga akses dan peluang masyarakat untuk dapat melakukan kegiatan ekonomi. Dalam dataran ini, korban bencana alam barangkali lebih miskin dari orang miskin sekalipun.