RESI SUBALI LENA

444 views
Resi Subali heran, Betara Narada masih mau terima suap, macam oknum Ketum parpol saja.

 

BEBERAPA saat setelah Maesasura dkk dibinasakan, Subali melihat suasana dalam goa menjadi gelap gulita. Semula dia menduga aliran listrik diputus PLN, karena Maesasura sampai tanggal 20 belum bayar rekening. Tetapi demi udara semakin pengap dan panas, yakinlah bahwa adiknya berbuat curang. Mulut goa sengaja ditutup Sugriwa karena dia ingin membinasakan kakak kandungnya dan kemudian menguasai Dewi Tara. Subali berlari ke mulut goa, mencoba membukanya, tetapi gagal!

“Mati dah gue kehabisan oksigen. Sialan Sugriwa, karena cewek tega mencelakakan saudara sendiri,” maki Subali.

Namun Subali memang bukan wayang kemarin sore, percuma telah menguasai Aji Pancasona dan sejumlah ilmu tinggi lainnya. Dia kerahkan segala tenaga dan daya. Sekali hantam, batu penyumbat goa itu hancur jadi split. Pyarrr! Dan pemborong-pemborong modal cekak pun berebut memanfaatkannya untuk bikin cor-coran beton.

Selepas dari goa maut Subali bergegas ke Kahyangan, mengejar Sugriwa. Tapi sudah kepancal (ketinggalan). Wayang curang itu telah kembali ke bumi bersama Dewi Tara, begitu penjelasan Batara Narada sambil menunjukkan nota tanda terima penyerahan Dewi Tara. Tentu saja Subali protes keras, tanpa surat kuasa kenapa Sugriwa diizinkan membawa Dewi Tara?

“Apakah Pukulun telah terima salam tempel dari Dimas Sugriwa?”

“Alaaa, cuma cepek (Rp 100.000). Itu pun sudah habis untuk betuli knalpot mobil…!” jawab Narada sambil nyengir.

Bila dewa sudah ¬†ikut-ikutan seperti Ketum parpol, kena suap juga, memang runyam. Segera Subali tinggalkan Narada tanpa pamit. Dia panggil taksi Grab, mengejar Sugriwa. Dasar nasib sedang bagus, sopir taksi itu bercerita bahwa baru saja mengantar wanita cantik bersama wayang bertampang kera ke Hotel “Gandem Marem”. Kata si pengemudi pula, wayang lakinya royal, memberikan tip sampai Rp 50.000.