Kami Diam di Dalam Mobil Karena Kami Kira Aman, Ternyata…

Mobil Taktis Rescue milik Dompet Dhuafa korban anarkistis aparat saat pengamanan Aksi Kedaulatan Rakyat 22 Mei 2019. Foto: Twitter

JAKARTA (KBK) – Direktur Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa Beny dalam jumpa pers bersama awak media menceritakan kronologis tindakan represif aparat terhadap tim medis Dompet Dhuafa dalam aksi unjuk rasa 22 mei malam.

Saat ini tim medis Dompet Dhuafa tengah menjalankan misi kemanusiaan di sekitar Bawaslu, Sarinah dengan 4 ambulance, 1 suv dan 1 kendaraan taktis angkut logistik berintikan 17 personel dimana 4 di antaranya dokter.

Beny menceritakan sebelum Pospol Sabang terbakar timnya sudah ada di sana. Di tempat ini DD tidak sendiri tetapi disuport oleh lembaga lain. Karena suasana sudah tidak kondusif, pada pukul 23:50 tim bersiap balik kanan. Namun dalam waktu singkat pasukan pemukul massa datang mendekati kendaraan suv tim medis.

“Di dalam suv kami ada 1 orang perawat, 2 tim dokumentasi dan 1 driver. Posisi kami siap pergi, mesin mobil sudah menyala,” kata Beny.

“Kami pilih di dalam mobil karena merasa lebih aman karena d mobil ada logo lembaga Dompet Dhuafa. Lalu kunci mobil di ambil tapi di suruh jalan. Instruksinya tidak jelas,” tambahnya.

Tiba-tiba kaca mobil bagian depan dan sebelah kanan dipukul hingga hancur. Sedangkan di mobil taktis logistik double cabin lain lagi ceritanya. Ketika aparat melakukan pengusiran, seorang tim medis DD tengah berada di atas mobil taktis. Secara cepat aparat memintanya untuk turun, tetapi tiba-tiba ada yang menarik kaki tim medis hingga terselip di antara ban serep. Singkat cerita tim medis tersungkur ke tanah dengan posisi kepala di bawah. Setelah jatuh ada polisi melindungi tapi tiba tiba ada juga yang melayangkan pukulan.

“Padahal atribut kami lengkap sesuai standar, ada helm dan logo lembaga. Untuk selamatkan diri kami lari tinggalkan mobil. Sampai RS Abdi Waluyo pun kami masih di kejar,” kenang Beny.

Pada pukul 01:30 dini hari tim yang sebelumnya terpencar dapat berkumpul di RSPAD Gatot Subroto. Namun 2 tim medis wanita yang terpisah, terpaksa harus bertahan di Gereja Theresia hingga pagi.

“Tim kami ada yang harus di ct scan akibat tindakan represif aparat,” jelasnya.