Mulut Sampah & Muka Tembok

Muka tembok alias tak punya malu, biasanya satu paket dengan mulut sampah.

SESUNGGUHNYA mulut sampah dan muka tembok itu satu paket. Jika mulutnya kotor, biasanya sang pemilik juga sekaligus bermuka tembok. Ini sikap yang bisa merusak pergaulan. Apa lagi di jaman milenial yang serba digital, hal-hal buruk itu bisa membahana di seantero negeri dengan cepat. Dunia maya nyaris seperti Perang Dunia ke-II, yang bisa berimbas ke jagad nyata. Sampai-sampai, seorang Wakil Ketua DPR Fadli Zon dikatakan “bermulut sampah” oleh Jubir Istana Ali Mochtar Ngabalin. Pertanyaannya, bila mulut saja bersampah, bagaimana pasukan oranye (PPSU) di DKI harus membersihkannya?

Ada hadits Nabi mengatakan, Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

            Nah, segumpal daging buruk di tubuh manusia itu kemudian akan terjadi koneksitas dengan pikiran, dan pikiran yang terkontaminasi setan gundul akan memerintahkan mulut untuk berkata kotor laksana sampah, bla bla bla….! Di era gital sekarang ini, kata-kata berbisa itu dengan cepat  menyebar. Di jaman media konvensional seperti koran dan majalah, masih bisa diperbaiki dengan ralat, karena ada sensor redaksi. Tapi di media sosial, susah dihambat karena kemudian seperti amuba, beranak pinak akibat disebarkan penerima selanjutnya.

Karenanya pepatah lama “berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah” perlu diamandemen tanpa lewat DPR, karena perlu penambahan kata: bermedsos peliharakan jari. Sekarang ini seperti apa tingkat sosialnya, semua keranjingan main medsos lewat HP smartpone-nya. Beberapa hari lalu ada pasar murah untuk keluarga miskin, tapi di antara pengambil kupon ada juga sambil berselancar di HP canggihnya.

Orang bermulut sampah baik lewat bibir maupun jari-jemari, sama asyiknya. Apa saja yang tak berkenan di hatinya, langsung dikomentari. Bahasa ngetrennya disebut nyinyir. Bukan komentar yang positif menyejukkan, tapi komentar menyakitkan yang bisa bernada SARA. Seperti yang terjadi beberapa hari lalu, hanya karena melihat anggota Brimob bermata sipit, digoreng-goreng di medsos bahwa ada Cina (RRT) jadi polisi Indonesia. Selidik punya selidik, itu memang polisi WNI asli, tapi dari Sumut dan Sumsel.

Nah, mulut sampah yang tak mungkin bisa dibersihkan oleh petugas PPSU di DKI ini, biasanya stelan dengan muka tembok, bagaikan mur ketemu baut, bagaikan platina dan kondensor bagi mobil model lama. Kenapa disebut satu paket dan setelannya. Sebab orang ini memang tak punya malu, tak punya rasa menyesal ketika mulut dan jarinya menyakiti pihak lain.

Orang Jawa punya pepatah, yang berbunyi: sadawa-dawane lurung, isih dawa gurung. Artinya, betapapun panjangnya sebuah jalan, masih kalah panjang dengan dasyatya omongan lewat mulut. Sebab omongan bisa menyebar ke mana-mana dengan tambahan kata, “Kalau bukan kamu, tak saya beritahu! Celakanya, informasi buruk itu pada  akhirnya sampai juga pada pemberi info yang pertama. “Ah, itu sumber awalnya dari saya kok, he he he….!”

Padahal, kalau kiriman uang atau barang cenderung bisa menyusut. Tapi berita, apa lagi yang hoaks, akan bertambah dengan sendirinya. Digoreng-goreng ke sana kemari, ada yang pakai tepung, pakai mentega. Tinggal pendengar atau pembaca berita bohong itu yang bingung, apa lagi bila kurang micin, kurang piknik, malah ada yang bilang kebanyakan minum kencing onta; bisa terpancing emosinya. Akhirnya dia ikut-ikutan bermulut sampah pula, sehingga dunia semakin gaduh saja. (Cantrik Metaram)