SURYATMAJA KRAMA (2)

Perkelahian Suryatmaja-Harjuna dipisah Betara Narada. "Malu dong, berantem kok rebutan cewek." kata dewa mirip pulau Kalimantan itu.

SELESAIKAH persoalannya dengan uang damai dan per­janjian itu? Tentu saja tidak. Meskipun keperawanan dijamin utuh, wayang-wayang tetap saja akan mencemooh Kunti karena punya anak tanpa suami. Maka begitu adiknya melahirkan lewat telinga, orok yang diberi nama Suryatmaja (berarti anak Batara Surya) atau Karno (telinga) itu oleh Basudewa segera dihanyutkan ke sungai Yamuna sempalan (cabang) Ciliwung. Pusaka Kuntadruwasa pemberian Bata­ra Surya juga disertakan pula di dalamnya.

“Selamet, selamet, mudah-mudahan nggak ada polisi yang lihat,” kata Basudewa ketika melihat bayi dalam ember plastik itu dibawa arus.

Nasib bayi Suryatmaja memang bagus. Dia tidak mati kedinginan atau tenggelam, justru malah ditemukan oleh istri Prabu Radeya dari Kerajaan Pretapralaya. Kebetulan dia tidak punya anak, sehingga bayi itu diadopsi dan diganti nama Radeyaputra.

Ketika Radeyaputra berusia 25 tahunan, dia pacaran dengan Dewi Surtikanti putri Prabu Salya dari Mandaraka, yang dikenalnya lewat cover Majalah Famili. Anak angkat Prabu Radeya ini memang tergolong ndableg juga, meski-pun tahu Surtikanti sudah dicalonkan dengan Suyudana raja Ngastina, tiap malam apel di keputren Mandaraka. Dan ketika pulang Suryatmaja cuma meninggalkan cupang di pipi dan leher Dewi Surtikanti.

Di Mandaraka agaknya saat itu memang lagi musim bercinta. Selain Suryatmaja – Surtikanti, putri bungsu Prabu Sulya yang bernama Banowati juga sedang hot-hotnya memadu kasih dengan Permadi kesatria dari Ngamarta. Yang membuat Banowati sakit hati, beberapa kali dia memergoki kekasihnya loncat dari jendela kamar Dewi Surtikanti. Dia marah benar kepada Permadi.

“Dasar buaya darat, luh! Pacaran dengan gue tak puas ya, sehingga kakakku Surtikanti kamu “timpe” juga?” ujar Bano­wati suatu malam sengit.

“Ssst, jangan menuduh yang bukan-bukan. Saya tak pernah pacaran dengan kakakmu, sungguh…!” jawab Per­madi membela diri.

“Omong kosyong, jangan mungkir! Yang tadi malam mojok di bawah pohon rambutan itu siapa, hayo? Ngaku saja…!” tuduh Banowati kembali.

Karena merasa tidak pernah melakukan, Permadi tersinggung juga atas tuduhan kekasihnya. Maka malam berikut-nya dia sengaja ndhedhepi (mengintai) di luar kamar Surtikanti. Dia ingin tahu siapa lelaki yang bikin cemar namanya itu.

Benar juga. Sekitar pukul 21.30 saat TVRI selesai siaran Dunia Dalam Berita, Permadi melihat kesatria tampan loncat dari jendela kamar Surtikanti. Yang membuat Permadi terkejut, pemuda itu sama persis dengan dirinya. Pantesan Banowati jadi menuduh yang bukan-bukan, pikir Permadi sambil terus mengejar lelaki fotokopian itu.

“Atas nama Yang Dipertuan Agong di Mandaraka, menyerahlah kau maling keparat…!” teriak Permadi.

Lelaki yang tak lain Suryatmaja tersebut, kaget juga digertak wayang yang sama dan sebangun dengan dirinya. Menyadari akan kesalahannya, dia mau kabur saja. Tapi sayang, kunci kontak sepeda motornya ketinggalan di kamar Surtikanti. Akhirnya untuk mempertahankan diri, Permadi pun dilawan mati-matian.

Kedua kesatria yang berwajah mirip itu ternyata sama-sama hebat. Namun demikian lama-lama Suryatmaja kehabisan tenaga, pelipisnya berdarah kena akik Permadi.

Di saat Permadi mau menghabisi sekalian nyawa lawannya, tiba-tiba Sanghyang Narada yang berpotongan mirip pulau Kalimantan itu datang melerai.

“Sabar-sabar, kakak beradik kok berantem rebutan cewek. Malu dong didengar wayang yang lain. Hayo berhenti…!” perintah Narada tegas penuh wibawa.

Setelah Suryatmaja – Permadi berhenti berkelahi, Sanghyang Narada segera memberitahukan bahwa antara Su­ryatmaja dan Permadi masih kakak beradik. Sambil membuka-buka buku sejarah Onghokam yang belum dikarang, Narada menjelaskan bahwa keduanya adalah putra Dewi Kunti dari Mandura.

“Karena masih saudara, tak mengherankan wajahmu berdua begitu mirip seperti anak kembar. Coba, masuk Yayasan Nakula – Sadewa milik Kak Seto, kalian pasti diterima,” tambah Narada.

Untuk membedakan keduanya, sekaligus menutup luka di pelipis Suryatmaja, Sanghyang Narada kemudian memberikan mahkota dari baja, mirip milik Batara Surya. Begitu terharunya, sepeninggal Narada yang nunut truk ke Kahyangan, mereka saling berangkulan.

Tapi belum juga puas melepas rindu, ada laporan dan Hansip bahwa Dewi Surtikanti dicuri Emban Kidanganti utusan Prabu Kalakarno dari Ngawangga. Sebagai calon-calon menantu yang bertanggung jawab, Suryatmaja dan Permadi segera memburu maling itu ke Ngawangga dengan naik KA Mutiara Jakarta – Surabaya via Semarang.

Tiba di Kerajaan Ngawangga, langsung saja Suryatmaja dan Permadi menuju Taman Kaputren. Saat itu Prabu Kalakarno yang berwujud raksasa sedang asyik merayu Surtikanti untuk diperistri.

Perkelahian segera terjadi, Permadi sebenarnya ingin membantu, tetapi dicegah oleh Suryatmaja. Jadilah Permadi cuma nonton sambil makan mie ayam depan percetakan Metro Pos. Dan ternyata Suryatmaja memang hebat, raksasa pencuri pacar itu berhasil ditewaskan dengan panah miliknya, Kuntadruwasa.

Surtikanti yang ternyata masih suci dan ditanggung halal, diboyong ke Mandaraka kembali. Sebagai ucapan terima kasih, Prabu Salya mengawinkan Surtikanti dengan Suryat­maja. Agar Duryudana tak kecewa, Banowati diswit dari Permadi dan dipertunangkan dengan raja Ngastina tersebut.

Pengantin baru Suryatmaja – Surtikanti kemudian mengambil rumah BTN tipe 1.000 di Ngawangga, di bekas tanah garapan peninggalan Prabu Kalakarno. Di kompleks real estate yang nyaman, segar serta ber-IMB itulah Suryatmaja kemudian memproklamirkan diri sebagai adipati dengan gelar Adipati Karno. (Ki Guna Watoncarita)