Lebaran di Kampung

Sungkeman Idul Fitri, versi wayang keluarga punakawan Gareng-Petruk.

HARI ini kita umat Islam merayakan Idul Fitri 1440 H, saatnya berkumpul dengan keluarga sambil bermaaf-maafan. Tapi di hari nan bahagia ini tak semua bisa menikmati dengan gembira. Ada yang sedang terkapar di Rumah Sakit, ada yang meringkuk di penjara gara-gara urusan kriminal dan politik. Karena politik pula, menjadikan orang kikuk dalam bermasyarakat. Mau salat Ied di mana? Di sana ketemu si Anu, mending salat Ied di sini sajalah. Maka paling berbahagi adalah Lebaran di perkampungan. Bebas dari pertimbangan politik, bebas dari open house tapi banyak pula kue-kue hasil oven.

Pada Lebaran 1440 H ini kaum pensiunan PNS ikut sumringah, karena juga menerima THR sebagaimana PNS yang masih aktif. Mereka bisa lebih banyak bikin kue-kue, dan bisa pula memberikan angpau pada cucu-cucunya. Anak-anak semua ngumpul. Inilah kebahagiaan setiap orangtua di hari Lebaran. Ketemu anak-anak dan cucu-cucu.

Tapi di sisi lain, pas di hari Lebaran malah ada yang terenggut kebebasannya. Jika napi kasus kriminal masih “terhibur” karena dapat remisi Labaran. Bagaimana dengan yang ditahan karena urusan politik? Ini sungguh mengenaskan, dia tetap di penjara karena tak ada cuti Lebaran ataupun penahanannya ditangguhkan. Ada yang ditangguhkan karena jaminan seseorang, ada pula yang sudah dijamin seseorang tapi tetap diperam di Rutan.

Gara-gara politik, ada pula politisi yang jadi kikuk urusan ibadah. Tokoh sekaliber dia mustinya salat Ied di Istiqlal, bersama tokoh-tokoh besar lainnya. Tapi dia memilih “menyendiri”, salat Ied di luar kota agar tak ketemu tokoh yang jadi rivalnya dalam politik. Tragis kan? Gara-gara politik justru tersekat hubungan ukhuwah Islamiyah-nya.

Maka paling berbahagi adalah Lebaran di perkampungan dan pedesaan. Tak ada urusan politik, tak ada urusan aliran. Bahkan umat non Islam pun ada juga yang ikut merayakan Lebaran, dalam arti di rumah buka pintu menerima kedatangan para tamu untuk saling bermaafan, lengkap dengan hidangannya pula. Inilah Indonesia yang Pancasila.

Ini setidaknya terjadi di Kab. Purworejo (Jateng) bagian selatan, umat non muslim yang minoritas, ikut pula merayakan Lebaran yang biasa disebut riyaya, bakda atau udhunan. Keluarganya ikut mempersiapkan kue-kue Lebaran, meski –tentu saja– tidak ikut berpuasa dan  salat Ied pada 1 Syawalnya. Maklum di kampung, meski beda keyakinan tapi mereka masih seketurunan atau masih sekeluarga di kampung.

Apa bedanya Lebaran di kampung dan di kota besar? Di kota besar malah sepi karena banyak yang mudik. Sebaliknya di kampung menjadi lebih ramai, karena banyaknya orang kota yang mudik. Ini semua bisa dilihat dari kendaraan pribadinya, mayoritas berplat B (Jakarta), kemudian H (Semarang) atau L (Surabaya). Makin banyak tamu bawa mobil, makin naik gengsi si tuan rumah.

Di masa kecil penulis, Lebaran tampak lebih ramai justru di hari kedua. Hari pertama cukup salat Ied di mesjid atau mushola. Hari kedua barulah saling berkunjung ke rumah tetangga dan kenalan untuk berhalal bihalal. Ada juga yang pakai sungkeman model lama. Di mana-mana makanan melimpah ruah. Ada yang bikinan sendiri, seperti wajik, jenang, nagasari, lapis dan sengkulun. Tapi makin ke sini, dominasinya ke kue-kue kalengan macam Kong Guan dan Roma, semua hasil ovenan di pabrik. Minumannya, dulu Orson sekarang sirup Marjan.

Bagi anak-anak, yang utama bukan kue-kuenya, tapi sangu atau uang pemberian dari para tuan rumah. Maka sebuah keluarga yang tak pernah nyangoni anak-anak, takkan didatangi anak-anak. Sebaliknya yang biasa memberi uang setiap Lebaran, maka rumahnya akan dibanjiri anak-anak. Bahkan ada juga anak-anak yang tadi sudah dapat sangu dari rumah ini, kembali ikut antrian dengan harapan dapat uang lagi. Bahkan teman penulis, untuk mengejar “target” sangu, diajak pamannya berhalal bihalal senangnya bukan main. Tapi ketika disapa tuan rumah, “Kamu ikut paklik, ya?” Jawabnya lugas, “Enggih Mbah, pados sangu (iya Mbah, cari sangu).” Langsung sang paman memelototinya, dan si bocah mengkeret macam kucing disiram air.

Para orangtua cukup bijak memberi sangu pada anak-anak, karena diukur dari kemampuan ekonomi orangtuanya. Jika anak dari keluarga mampu, diberi sangu lebih sedikit ketimbang anak dari keluarga miskin. Maka penulis sewaktu anak-anak pernah iri karena dapat sangu lebih sedikit dari teman lain. Ternyata kata bapak,  “Karena secara ekonomi kita lebih mampu dari mereka.”

Namanya juga anak-anak, dapat sangu bukannya ditabung, tapi buat beli jajan dan mainan. Anak kampung tahun 1960-an, favoritnya beli mainan berupa wayang kardus yang berukuran sepertiga dari wayang aslinya. Hiburan lain, nonton ketoprak tobongan di Pasar Purwodadi dengan masa tonton sekitar 30 menit. Jika ingin mengetahui cerita sampai akhir, ya harus beli tiket berulang kali sampai pertunjukan berakhir. Penulis yang belum puas mencoba mengintip para pemainnya dalam tobong. Ternyata Aryo Penangsang-nya sedang makan dengan lauk ayam goreng.  (Cantrik Metaram).