KALA MARICA MBALELA

441 views

Tak menunggu waktu lama, Prabu Dasamuka telah mendengar info yang beredar di medsos bahwa Kala Marica telah memasuki wilayah negara Pancawati, melapor kepada Gunawan Wibisono mengenai kondisi terakhir negara Ngalengka. Tentu saja laporannya penuh rekayasa, A dibilang B, B dibilang A. Memutarbalikkan fakta.

“Kaladusana, ente harus menyamar ke Pancawati. Cari sampai ketemu kutu kupret Kala Marica.”

“Lalu Anggaran Perjalanan Dinasnya bagaimana boss?” Kaladusana bertanya.

“Pakai uangmu dulu, ya.” jawab Prabu Dasamuka sambil ngeloyor pergi.

Tuh kan, kalau soal pengeluaran Dasamuka pasti menghindar. Meskipun berat akhirnya berangkat juga. Sebetulnya misi yang diembannya ganda, selain mencari kepastian keberadaan Kala Marica, apa benar bergabung ing Pancawati, sekaligus cari info sampai di mana kekuatan Pancawati. Yang bikin Kaladusana tambah semangat, katanya jika sukses mengekstradisi Kala Marica, posisi di Istana akan ditingkatkan lagi menjadi Kepala Staf Kerajaan.

Dengan menyamar sebagai monyet, Kaladusana berhasil lolos dari pemeriksaan imigrasi Pancawati. Diam-diam dia  terus mencari info Kala Marica, apa benar telah bergabung dalam barisan Pancawati. Tapi celaka tigabelas, baru berjalan beberapa meter sudah ketahuan Satpam. Kontan digeledah.

“Saya Kapidusana dari pasukan A,” ujar Kaladusana.

“Ah, monyet kok nggak punya buntut. Yang bener aja.” mas Satpam menyelidik.

“Kecelakaan, Pak. Ekorku putus kejepit pintu angkot..”

Satpam tak percaya juga, sehingga “Kapidusana” diserahkan kepada si killer Jaya Anggada, dia digebuki. Setelah ditelanjangi, tenyata berwujud raksasa asli bahkan simpan pula KTP pendukung Dasamuka-Prahastho, maka langsung diteruskan kepada Raden Gunawan Wibisono. Ternyata dibenarkan, jika dia memang mata-mata dari Ngalengka, nama aslinya Kaladusana. Andaikan tak dicegah Prabu Rama, sudah remek digebuki dia.

Maunya Patih Sugriwa dan Jaya Anggada, Kaladusana sebaiknya dihukum mati saja, dengan dipancung. Jika tidak, Ngalengk harus bayar tebusan Rp 4 miliar. Tapi Prabu Rama tak mengizinkan, bukan tipikal negara Pancawati mata duitan seperti itu. Akhirnya Kaladusana malah dibebaskan, disuruh pulang ke Ngalengka dengan diberi hadiah macam-macam.