From Trash to Treasure

JAKARTA (KBK) – Data yang dikeluarkan Jenna Jambeck, peneliti dari Universitar Georgia Amerika Serikat menunjukan, Indonesia menjadi negara penghasil sampah terbesar ke dua di dunia setelah Tiongkok. Dilihat dari komposisinya sampah yang dihasilkan didominasi sampah organik 60 persen dan sampah plastik yang mencapai 14 persen. Kemudian sampah kertas 9 persen, metal 4 persen serta kaca, kayu dan lain sebagainya sebesar 14 persen.

Guna meredam produksi sampah plastik yang kian banyak, sejumlah NGO Indonesia pada acara Philanthropy Learning Forum dengan tema From Trash to Treasure meluncurkan gerakan Klaster Filantropi Lingkungan Hidup dan Konservasi sebagai wadah untuk bersama-sama merembukan solusi dan menyusun cara mengurangi sampah.

Samsul Ardiansyah aktivis lingkungan dari Dompet Dhuafa menuturkan pada tahun 2019 ini diperkirakan Indonesia akan menghasilkan 66-67 juta ton sampah. Namun untuk mengatasi masalah lingkungan kata Samsul, kita tak bisa mengesampingkan isu ekonnomi yang selalu melekat dibelakangnya.

“Masalah sampah harus bicara sampai akarnya,” terang Samsul (17/7).

Bahkan tambah Samsul, Indonesia juga termasuk salah satu negara menghasil sampah makanan terbesar dengan nilai kerugian mencapai USD 1.700 miliar. Padahal hanya dibutuhkan USD 700 miliar untuk mengatasi masalah kelaparan di seluruh dunia. Sampah plastik yang kian menggunung juga merupakan masalah pelik bagi kelestarian lingkungan Indonesia dalam 10 tahun mendatang.

Kepala Divisi Pendayaagunaan BAZNAS Randy Suwandaru mengatakan, istilah From Trash to Treasure mendefinisikan sampah menjadi benda yang sangat rendah, sedangkan treasure merupakan hal yang istimewa. Padahal keduanya merupakan amanah tuhan yang kedudukannya sama dan harus dijaga manusia. Untuk mengurangi sampah lanjut Randy, manusia bisa menerapkan hukum syariat islam.

“Misalnya makan bersila perut di tekuk, tujuannya agar kita tidak berlebihan dan ambil makanan secukupnya,” Ujar Randy.

Di sisi lain BAZNAS juga memiliki konsep food bank dengan maqasid sharia bermakna jangan menyia-nyiakan makanan, menolong dengan memberi makanan, menjaga akal dengan nutrisi yang cukup dan menjaga sumber daya untuk anak cucu.

Indonesia kata Randy setiap hari menghasilkan 13 juta metrik ton makanan yang tak habis dikonsumsi. Jumlah tersebut bila dikalkulasikan mampu memberikan makan untuk 28 juta orang.

“Itu bukan sampah, tapi makanan berlebih. Supaya bermanfaat BAZNAS bekerjasama dengan perkumpulan hotel pariwisata dan wisata halal untuk mengambil makanan berlebih itu untuk disalurkan kepada yayasan yang sudah kerjasama dengan BAZNAS,” terang Randy.

Mengingat mengatasi sampah tak bisa dilepaskan dengan isu ekonomi, Manager Kelautan Yayasan Kehati Basuki Rahmat menwarakan solusi dengan konsep “Back to Besek”. Selain mengatasi masalah sampah, konsep tersebut juga mampu menggerakan roda ekonomi dari desa sampai kota.

Besek lanjut Basuki diharapkan bisa menggantikan penggunaan plastik dan sterofoam untuk kemasan makanan. Pengaplikasiannya masayarakat desa diwajibkan menanam bambu, setelah panen bambu tersebut dikirim ke kota untuk diubah menjadi besek kemasan makanan.

“Warga desa jadi punya uang dari jual bambu. Di kota pembuatan besek bisa dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga melalui program pemberdayaan. Besek bamboo itu bukan sampah,” terang Basuki.