Reformasi Setengah Hati PSSI

294 views
Suatu pertandingan di liga PSSI. Kisruh kepengurusan PSSI lebih banyak menghiasi media massa ketimbang torehan prestasi di lapangan sejak hampir dua dasa warsa terakhir ini.

ASA para pecandu sepakbola Indonesia yang mendambakan PSSI menjadi skuad yang disegani dan berjaya, minimal di Asia Tenggara agaknya sementara ini kandas, melihat hasil Kongres KLB PSSI.

Alasannya, muka-muka lama (sebagian di bawah kepemimpinan Nurdin Halid) yang dinilai gagal memajukan sepak bola nasional masih tampil di jajaran Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding (KBP) yang ditugasi menjaring pengurus baru.

Syarif Bustaman, anggota Komite Eksekutif saat PSSI dipimpin Nurdin Halid diangkat menjadi ketua KP dibantu enam anggota yakni Harbiansyah Hanafiah, Irawadie Hanafi, Budiman Dalimunthe, Maurice Tuguis, Soedarmadji dan Rocky Bebena.

Sementara KBP dipimpin Erwin Tobing (anggota DPR) dibantu antara lain oleh Djoko Tetuko, M. Niagara dan Alvis Primata dan Ponaryo Astaman (mantan kiper).

Prestasi sepakbola Indonesia yang dibentuk sejak era Hindia Belanda, 1930 hingga kini masih memprihatinkan, lebih banyak diwarnai heboh di jajaran pengurus ketimbang memenangi pertandingan.

Prestasi yang pernah ditorehkan a.l menahan imbang 0 – 0 lawan Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956, walau di babak perdelapan takluk 0 – 4 dari skuad beruang merah itu yang keluar sebagai juara pertama.

Di level Asia, menjuarai piala Aga Khan, Bangladesh (1966), Merdeka Games, Malaysia (1968, 1969) dan SEA Games (1987, 1991).
Setelah itu di era 90-an yang ditandai kebangkitan kekuatan sepakbola Asia seperti Korsel, Jepang dan China, juga Timur Tengah diwakili Iran, Irak, Arab Saudi, Kuwait, sebaliknya PSSI malah makin miskin prestasi.

Di bawah Suriah, Lebanon dan Palestina
Sulit dipahami, dengan 265 juta penduduk yang mayoritas gemar, bahkan sebagian “gila” sepakbola, RI terpuruk di ranking ke-160 FIFA, di bawah Vietnam (97), Thailand (115), Filipina (126) dan Myanmar (139).