SENGON DEWANDARU

351 views

“Blusukan ke kampung-kampung, cari dukungan ya Pakde?” tanya sesosok wayang yang tak mau disebut namanya.

“Dukungan ndhasmu njeblug! Ini sedang menelusuri jaringan SUTET yang bikin padam listrik di kahyangan, tahu!” jawab Betara Surya agak sewot.

Ketika penelusuran Betara Surya tiba di daerah Gunung Pati, Semarang, terlihatlah sebatang pohon sengon, yang jelas-jelas pucuknya hampir menyentuh kabel SUTET. Jika loncatan listriknya terkena pohon tersebut, bukan saja pohon itu mendadak mranggas (tinggal batangnya saja tanpa daun), tapi juga bisa menyebabkan gangguan ada jaringan listrik secara nasional.

Betara Surya segera pinjam sinso untuk menebang pohon sengon yang warga setempat menyebutnya Sengon Dewandaru. Tapi penduduk keberatan jika pohon itu mau ditebang, sebab belum tua benar. Jika sudah tua betul, bisa menjadi bahan bangunan handal jika direndam pakai air garam.

“Pohon segede ini mau direndem air garam? Habis berapa kwintal garam nanti.” Ujar Betara Surya songong.

“Kan tinggal impor. Masak yang impor rektor dan dosen doang.”

Sanghyang Surya tak peduli atas keberatan warga. Sengon Dewandaru tetap hendak ditebang, tapi ternyata gergaji mesin itu tak mempan, padahal batangnya tak keras-keras amat. Terpaksa Betara Surya kembali ke kahyangan Jonggring Salaka, minta petunjuk Betara SBG bagaimana solusinya. Ternyata dia malah diminta menghubungi Ki Lurah Semar di Karangkebolotan.

Ki Lurah Semar yang menjabat puluhan periode melebihi Pak Harto segera tiba di lokasi Sengon Dewandaru. Melihat sebentar, lalu dikencingi di seputar akar-akarnya, mendadak pohon sengon tersebut dengan mudah disinso. Bersama dengan itu tiba-tiba muncul Betara Brama dari dalam pohon sengon tersebut. Sebetulnya hendak lari, tapi langsung ditangkap Ki Lurah Semaran dan dikentuti tepat pada mukanta, duuuuuut….. langsung Betara Brama pingsan.