Selamatkan Hutan, Milik Kita Bersama

452 views
Pada 2019 saja (sampai Juli) tercatat 73.000 kali kebakaran hutan Amazon di Brazil. Hutan penting bagi seluruh umat dunia, hingga harus dijaga bersama.

HUTAN di tengah globalisasi dan kemitraan era now walau hak milik suatu negara tetapi tidak bisa dieksploitasi semau-maunya sehingga merugikan negara-negara lain.

Hal itu tercermin dari ancaman Perancis dan Irlandia, Jumat lalu (23/8) untuk tidak meratifikasi kesepakatan dagang antara Uni Eropa dan blok Mercosur (Argentina, Brazil, Paraguay dan Uruguay) jika Brazil tidak bertindak lebih serius mengatasi kebakaran hutan Amazon.

Kebakaran hutan tropis Amazon menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam KTT G-7 di Biarritz, Perancis 24 – 26 Agustus.
Berdasarkan laporan Data Institut Nasional untuk Ruang Angkasa (INPE) selama periode Januari sampai Agustus 2019 tercatat 73.000 kebakaran di kawasan hutan Amazon atau meningkat 83 persen dibandingkan 39.759 kasus pada periode sama pada 2018.

Sekitar 60 persen dari luas Lembah Amazon seluruhnya yakni sekitar 5,5 juta Km2 berada di Brazil memproduksi seperlima oksigen dan air bersih bagi dunia, 40.000 species tanaman, 1.300 jenis burung, 3.000 ikan dan 2,5 juta serangga.
PM Irlandia Leo Varadkar menyatakan, negerinya bakal menentang kesepakatan dagang antara UE dan Mercosur jika Brazil tidak segera bertindak menyelamatkan hutan Amazon.

Eskspor sapi Brazil ke UE mungkin salah satu yang akan dilarang, sementara Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Perancis Emmanuel Macron dan PM Inggeris Boris Johnson menilai kebakaran hutan Amazon sudah pada tingkat krisis internasional.

Sebaliknya, Presiden Brazil Bolsonaro bereaksi keras merespons kritik yang dilontarkan UE dan menyebutkan penyebabnya kemungkinan berasal dari kegiatan petani illegal dan dengan nada tinggi menolak campurtangan asing.

Bolsonaro juga berdalih, Brazil tidak memiliki kemampuan mengendalikan kebakaran di area yang lebih luas dari Eropah.

Bagaimana Indonesia?
Kebakaran hutan tropis juga terjadi di sepanjang musim kemarau tiap tahun terutama di Kalimantan dan Sumatera, sebagian besar akibat pembalakan dan pembukaan lahan liar, baik oleh perseorangan maupun korporasi.