ANOMAN DUTA (1)

6.385 views

“Kakang Patih Sugriwa, saya harus segera kirim utusan ke Ngalengka, untuk mengecek kebenaran istriku ada di sana. Lalu siapa kiranya yang bisa kita kirim?” kata Prabu Rama.

“Untuk menghemat anggaran, sebaiknya kita tugaskan saja kapi Anoman, ponakan saya sendiri, Sinuwun. Dia kan bisa terbang, jadi nggak perlu beli tiket pesawat, yang harganya sekarang naik tinggi sekali.”

Prabu Rama manggut-manggut macam Pak Harto penguasa Orde Baru dulu. Benar juga pertimbangan patihnnya ini, demi penghematan anggaran. Kenapa harus naik pesawat, jika terbang solo saja bisa. Ini jelas lebih praktis dan ekonomis. Tak perlu bawa koper dan ngurus paspor dan visa segala. Cukup isi ransel dengan buah-buahan dan 2 botol Aqua cukup.

Kapi Anoman yang hadir dalam sidang itu diminta maju ke depan, untuk ditanya kesiapannya menjadi utusan negara yang duta angrampungi (mampu selesaikan segala masalah). Tapi belum sempat ditanya, kapi Anggodo yang sepupu Anoman juga tunjuk jari, siap menjadi delegasi ke Ngalengka.

“Maaf Sinuwun, jika ukurannya bisa terbang, hamba juga bisa, malah punya jam terbang sampai 650 jam.” Kata kapi Anggodo membanggakan diri.

“Pernah terbang ke mana saja kamu?” Prabu Rama bertanya.

“London, Washington DC, Los Angeles terakhir Lenteng Agung.” Jawab Anggodo polos.

Gantian kapi Anoman tunjuk jari, untuk mematahkan alasan kapi Anggodo. Kata dia, banyak pengalaman terbang tak ada artinya, jika tak punya kesaktian memadai. Sebab raja Ngalengka ini terkenal kesaktiannya, apa lagi dia punya ajian Pancasona, sehingga terbebas dari kematian. Maka Anoman menjamin mampu menaklukkan Dasamuka manakala Dewi Sinta dipertahankan tak boleh dibawa ke Pancawati.

Benar juga alasan Anoman, sebagaimana kata Google, ajian Pancasona memang menjadikan pemiliknya terbebas dari kematian. Tapi masih kata Google pula, ajian Pancasona masih kalah ampuh oleh Pancasila, karena mampu mempersatukan semua wayang dalam kotak kidalang, baik dari golongan kesatria, begawan, kera maupun raksasa.