Membatasi Janda Muda

Sidang perceraian di Pengadilan Agama. Vonisnya berimplikasi bertambahnya janda dan duda.

KITA memang bangsa ahli menata kata. Sebuah kosa kata diperhalus agar menjadi enak didengar dan santun. Sekedar contoh, ledakan penduduk disebut: bonus demografi. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, efeknya sami mawon. Bikin sengsara penduduk Indonesia secara mayoritas. Ledakan penduduk diatasi dengan KB, dan kini pemerintah sedang mengantisipasi ledakan janda-duda lewat revisi UU Perkawinan No. 01 tahun 1974. Yang disasar pasal 7 ayat 1 tentang usia calon pengantin, dengan harapan bisa mengurangi populasi janda-duda khususnya, dan jumlah penduduk pada umumnya.

Dalam UU Perkawinan No. 01 tahun 1974 pasal 7 ayat 1  disebutkan, usia minimal calon pengantin 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria. Tapi kini DPR dan pemerintah sepakat semua dipukul rata sama, yakni 19 tahun. Tujuannya untuk mengurangi populasi janda dan duda.

Sekedar contoh, di Mojokerto (Jatim) populasi janda dan duda meningkat tajam, akibat perkawinan dini. Tahun 2019 ini misalnya, janda baru 1.201 orang. Tahun 2018 sebelumnya, tercatat 3.142, dan tahun 2017 sebanyak 3.759, sementara tahun 2016 sebanyak 1.583. Bagaimana dengan popolasi dudanya, mestinya berbanding lurus. Sebab dalam prakteknya, banyak juga pria melakukan “madu bersyariah” alias poligami. Akibatnya, meski lelaki ini telah  menghadirkan janda baru, tapi dia sendiri tidak otomatis mendudu, karena ada stok lain,  bisa dua atau tiga.

Mobil bekas pakai, harga biasanya turun. Tapi di daerah tertentu, status janda justru menaikkan “status” si janda menjadi lebih mahal. Mungkin karena lebih berpengalaman, mungkin karena ada juga lelaki yang suka jadi “generasi penerus”. Lelaki ini punya prinsip, bekas pakai nggak masalah, yang penting kan perawatan, ganti olie tak pernah telat!

Tapi secara umum, janda akibat perceraian selalu disikapi publik dengan rasa keprihatinan. Itu pertanda pasangan itu gagal dalam ujian pahit-manisnya kehidupan rumahtangga. Bukankah tujuan perkawinan kan demi kebahagiaan, tapi kok malah dapat kesengsaraan? Dalam Quran dinashkan, “Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (Al-Furqon : 74)

Dalam Islam, beranak banyak juga sangat dianjurkan. Sebuah hadits Nabi juga mengatakan, nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu).

UU Perkawinan No. 01/1974 yang membatasi usia perkawinan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk lelaki, telah menjadikan populasi penduduk RI cepat sekali, meski telah ada program KB. Itu namannya ledakan penduduk, tapi diperhalus menjadi bonus demografi. Hal tersebut telah terbukti dengan telak. Bila tahun 1974 saat UU Perkawinan disahkan jumlah penduduk Indonesia baru 127,5 juta, tahun 2019 ini telah meningkat menjadi 267 juta.

Asal tahu saja, populasi penduduk yang meningkat tajam selama 45 tahun itu tidak melulu dari hasil perkawinan, banyak juga yang karena “kecelakaan”, termasuk bapak tiri celamitan, yang belakangan semakin ngetren. Walhasil mereka lahir tidak diterima dengan gembira, bahkan dianggap malapetaka.

Usia perkawinan minimal 16-19 tahun, sebetulnya mereka bukanlah pasangan yang sudah matang jiwanya. Mereka belum siap menghadapi ujian dalam rumahtangganya. Karenanya banyak yang putus di tengah jalan. Bila ini yang terjadi, anak-anak akan jadi korban. Ikut ibu, ketemu ayah tiri, ikut bapak, ketemu ibu tiri. Padahal kata orang, ibu tiri lebih kejam daripada ibukota negara (Jakarta).

Perceraian bukan saja mengorbankan para anak, tapi juga hadirnya janda dan duda baru. Maka pemerintah dan DPR kini sedang menggodok RUU Perkawinan, sebagai revisi UU tahun 1974. Jika sudah disahkan, nantinya usia pengantin wanita 19 tahun, begitu pula pengantin lelakinya, juga 19 tahun. Dengan demikian diharapkan tak ada perempuan masih ijo dan lelakinya kencing aja belum lempeng, sudah menikah. (Cantrik Metaram)