HARJUNA CATUR (II)

Harjuna ternyata "ngumpet" di kahyangan Betara Endro, ketemu istrinya, Dewi Supraba. Tentu saja betah.

TIBA di kerajaan Dwarawati ternyata Prabu Betara Kresna tak ada di tempat. Kata Patih Udawa, beliaunya sedang membezuk Resi Seta di RS Mitra Keluarga Kaya, karena ditusuk wayang radikal pakai candrasa. Dari pertapan Sukohini selama ini sang resi memang getol jadi pegiat gerakan anti khilafah yang ingin menjadikan wayang sekotak berikut dalang dan sindennya berkiblat ke Begawan Kilatbuwana. Alhamdulillah, berkat ajian Lembu Sekilan miliknya, kondisi Resi Seta cepat membaik.

Tapi karena semua wayang Dwarawati mengenalnya, dengan mudah Prabu Baladewa bisa ketemu Sembadra-Srikandi di taman Sasana Wanodya. Ternyata keduanya sedang asyik sendiri main WA lewat HP smartpone. Kadang-kadang senyum sendiri, layar ditarik ke atas, ditarik ke bawah, dijembeng-jembeng (diperlebar) macam bikin martabak.

“Hati-hati kalian main medsos sembarangan. Jarimu yang iseng, karier suamimu yang dalam bahaya.” Tegor Prabu Baladewa.

“Ee, kangmas Mandura. Mbakyu Erawati nggak diajak?” kedua istri Harjuna itu berbasa-basi.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, barulah Prabu Baladewa masuk ke topik dan intinya persoalan. Sehubungan dengan kepergian Harjuna yang 3 bulan lebih tanpa kabar, dia minta pada Sembadra-Srikandi agar dianggap saja Harjuna jadi Bang Toyib. Apakah tidak kedinginan jadinya? Oleh karena itu Prabu Baladewa memberikan solusi agar Sembadra mau dikawin oleh Burisrawa.

“Kok Burisrawa tahu suamiku sedang jadi Bang Toyib? Padahal tak pernah diposting di medsos.”

“Namanya juga kasih tak sampai, apa perkembangan si doi pasti dipelototi terus.” Jawab Prabu Baladewa.

Mulailah Prabu Baladewa jadi buzzer tanpa bayar bagi Burisrawa. Dikatakannya baha putra mahkota Mandaraka itu masa depannya sangat cerah, bakal jadi raja Mandaraka definitip, meski entah kapan. Di kesatrian Cindekembang asetnya sangat banyak, yang masuk LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara) saja sampai Rp 50 miliar, belum yang tak dilaporkan. Dia juga anggota DPR, meski jago bolos. Pokoknya nanti, jadi ibu negara Sembadra tinggal mamah karo mlumah.

Tapi ternyata Sembadra bergeming dari segala iming-iming. Dia takkan melihat apa dan siapa latar belakangnya, asal mampu menghadirkan Sekar Jatikesuma, boleh menggantikan posisi Pangeran Janaka. Pagi bawa kembang dimaksud, sore ke KUA. Jika sore bawa Sekar Jatikesuma, pagi subuh dikawinkan resmi. Tapi kalau memperroleh kembang itu tengah malam, bedug silakan berkahwin kata orang Malaysia.

“Wah susah itu, sampek tuwek kamu takkan bakal dapat jodoh. Pengin kamu jadi lansia yang tinggal di Panti Jompo?” Prabu Baladewa menakut-nakuti.

“Ya nggak papa Kangmas, wong nantinya juga dapat tunjangan prakerja Rp 500.000,- sebulan dari negara.”

Demikianlah, Prabu Baladewa gagal total jadi timses Burisrawa. Dia segera kembali ke Mandura dengan tangan hampa. Namun demikian sepanjang perjalanan menghibur diri, bukan timses yang gagal, tapi memang peruntungan nasib Burisrawa yang buruk. Masak usia sudah jadi bujang lapuk tak laku kawin juga. Ada baiknya setiap bulan Suro Burisrawa ikut ruwatan di Taman Mini, agar tidak sial melulu.

Sementara itu Abimanyu yang sudah berbulan-bilan jadi “anak yatim” lalu diajak Ki Lurah Semar ke Wukir Retawu, sowan Eyang Abiyasa sambil membawa oleh-oleh teh gula kopi seperti biasanya. Tujuannya tak lain tak bukan untuk menanyakan ke mana perginya Raden Harjuna, dan kapan pula timbuk kembali. Maklum, Begawan Abiyasa juga dikenal sebagai paranormal. Tapi paranormal murni, yang tak nyambi berpolitik, ingin menurunkan pemerintahan yang sah.

“Kata mbah Google, yang tahu di mana tumbuh Sekar Jatikesuma hanyalah Resi Anoman di pertapan Kendalisada. Coba kalian ke sana, siapa tahu dapat informasi jitu, tepat tiga angka.” Jawab Begawan Abiyasa yang di masa mudanya juga suka beli nomer.

“Ternyata Eyang juga cuma buka Google. Kalau begitu Abimanyu juga bisa, Eyang.” Abimanyu mencoba protes.

“Namanya wayang jaman now, harus mengikuti jaman cucuku.”

Abimanyu meninggalkan Wukir Retawu diantar Semar menuju  pertapan Kendalisada. Pertapan bekas panglima perang Pancawati ini sederhana saja. Genting kodok biasa, dinding batako ringan, bahkan listrik juga hanya 900 watt. Sebagai veteran perang Resi Anoman  juga dibebaskan dari kewajiban bayar PBB, dan naik busway juga gratis.

Resi Anoman kaget juga didatangi Abimanyu-Semar hanya untuk menanyakan soal Sekar Jatikesuma. Masalah kembang-kembangan kan hobinya perempuan yang hobi bertaman, sedangkan dirinya istri juga tidak punya. Wah, Begawan Abiyasa memang paling-paling, suka merekomendasikan sesuatu yang bikin repot pihak lain. Maka dia pun menjawab sekenanya.

“Aku tak memiliki kembang begituan. Biasanya yang tahu Betara Indra, coba kamu ke kahyangan Ngutarasegara saja. Ingat, ini Betara Indra ya, bukan Indro teman Dono dan Kasino…..”

“Kok jadi seperti dongeng Brambang-Bawang kehilangan popok, Eyang. Dioper-oper melulu.” Abimanyu protes lagi.

“Memang begitu. Nanti Buto Ijo-nya ketemu di tempat Betara Indra.” Jawab Resi Anoman.

Yakin bahwa Resi Anoman takkan bikin “kebohongan publik”, Abimanyu segera sowan Betara Indra. Berkat dirinya masih trah Harjuna, dia dengan mudah bisa masuk kahyangan Ngutarasegara tanpa paspor. Padahal wayang lain, selain harus punya NPWP juga harus bayar sampai Rp 90 juta. Dengan paspor yang harganya ora umum tersebut, wayang bisa masuk Ngutarasegara tembus Guyana, Amerika Latin.

“Beruntunglah kamu. Sekar Jatikesuma bersama ayahmu sekalian, memang ada di sini. Dengan kembang ini, kelak kamu besuk bakal menurunkan wiji ratu,” kata Betara Indra serius.

“Alhamdulillah, matur nuwun. Dengan demikian nantinya keturun saya akan menjadi  ratu Ngastina tanpa perlu mbangun koalisi permanen, ya Eyang?”

Harjuna memang sedang berada di Ngutarasegara. Di sini dia ada istri Dewi Supraba, putri Betara Endra. Karenanya dia betah sama jadi Bang Toyib, wong soal “setrom-menyetrom” tidak sampai terganggu. Bahkan di sini pula Harjuna menjadi pria paling romantis, alias rokok dan makan gratis. Untuk bikin kejutan, sengaja Harjna diperintahkan untuk manjing dalam kembang Sekar Jatikesuma, baru nanti dikemas dan dikirimkan ke Dwarawati alamat sementara Sembadra-Srikandi.

Ternyata di Dwarawati telah ada Harjuna tiga biji, wujudnya sama presis, dari postur tubuh, sampai pakaian yang dikenakan. Jika sedikit ada perbedaan, ada juga yang pakai celana panjang cingkrang. Mereka juga sama, membawa buket kembang yang diklaim sebagai Sekar Jatikesuma. Padahal Sembadra yakin, buket bunga itu semua bikinan Rawabelong belaka.

“Stop jangan dibawa masuk, biarkan di luar saja. Itu hanya kembang rekayasa.” Kata Sembadra.

“Masak sih, itu semua dilindungi sertipikat lho.” Bela para Harjuna.

Beda dengan buket yang dibawa oleh Abimanyu langsung diterima. Benar juga, setelah dibuka nampak di dalam ada Raden Harjuna duduk nyengenges. Kedua wayang itu berangkulan, melepas rindu.

Tentu saja Harjuna-Harjuna duplikat menjadi cemburu melihat adegan roman-romanan secara terbuka. Mereka mengamuk, bikin kerusuhan. Abimanyu dikeroyok, dijadikan musuh bersama. Tapi Abimanyu tetap ngetop. Ada yang berubah ke wujud asli sebagai Burisrawa, Prabu Dewasrani dari Tunggulmalaya, dan Harjuna yang bercelana cingkrang ternyata Betara Kamajaya dari kahyangan Eracakra.

“Ini dewa celamitan, dewa tua Bangka kok ikut-oikutam.” Sindir Kyai Semar.

.           “Tua kan puser ke atas. Puser ke bawah mah masih 17 tahun….,” jawab Betara Kamajaya tersipu-sipu dan langsung kembali ke kahyangan. (tamat -Ki Guna Watoncarita)