Angka Prevalensi Balita Stunting Kronis

474 views

 

JAKARTA (KBK) – Kasus KLB Gizi Buruk di Asmat menjadi salah satu pembelajaran bahwa Indonesia masih mengalami beban ganda malnutrisi pada anak. Berdasarkan hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2018 menunjukkan 17,7
persen bayi usia di bawah 5 tahun (balita) masih mengalami masalah gizi. Angka
tersebut terdiri atas balita yang mengalami gizi buruk sebesar 3,9 persen dan yang menderita gizi kurang sebesar 13,8 persen.

Adapun prevalensi balita yang mengalami stunting (tinggi badan bawah standar menurut usia) sebesar 30,8 persen, turun dibanding hasil Riskesdas 2013 sebesar 37,2 persen.

Menurut Pakar Tumbuh Kembang Anak RSCM Prof Dr Soedjatmiko Sp.A meski tren stunting mengalami penurunan, hal ini masih berada di bawa target RPJMN 2019 yakni 28 persen dan rekomendasi WHO yang mensyaratkan prevalensi stunting kurang dari 20 persen.

“Artinya prevalensi stunting Indonesia masih tergolong kronis, dimana satu dari tiga anak
Indonesia mengalami stunting,” ungkap Soedjatmiko dalam paparannya di acara launching buku dan diskusi publik ‘Duka Asmat belum Berlalu’ di Jakarta (1/11).

Soedjatmiko mengatakan belajar dari KLB Asmat, ternyata bukan hanya Indonesia Timur yang masih alami gizi buruk dan stunting melainkan tersebar di berbagai pelosok nusantara.

Soetjatmiko menuturkan selain berdampak pada kesehatan, stunting juga mempengaruhi kecerdasan anak, produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Diperkirakan stunting dapat menimbulkan kerugian ekonomi setiap tahun sebesar 2-3 persen dari GDP dan mampu mengurangi PDB sebanyak 12 persen. “Ini mengkawatirkan,” ujarnya