AS Minta “Jatah Preman” dari Korsel Dinaikkan

228 views
AS meminta Korea Selatan menigkatkan kontribusinya atas biaya kerjasama pertahanan termasuk penempatan 28.500 personil pasukan AS di negeri itu.

AMERIKA Serikat tidak bersedia mennanggung beban terbesar kerjasama pertahanan dengan Korea Selatan sehingga meminta mitra utamanya di Asia itu menaikkan kontribusinya.

Alasannya, kata Menhan AS Mark Esper yang sedang berada di Seoul, Korsel (15/11), Korsel adalah negara kaya sehingga mampu memberi kontribusi lebih untuk membantu kerjasama pembiayaan pertahanan antara kedua negara.

Esper mengapersiasi Korsel yang telah memberikan kontribusi “yang memadai” pada masa lalu, namun menganggap hal yang amat penting pula agar negara itu ikut menanggung beban kenaikan biaya kemitraan pertahanan mulai tahun depan (2020).

Korsel tahun ini menyumbang satu milyar dollar AS (sekitar Rp14,5 triliun) untuk biaya penempatan 28.500 anggota tentara AS, sedangkan Presiden AS Donald Trump, menurut media Korsel, meminta dinaikkan menjadi 4,7 milyar dollar AS pada 2020.

Menhan Korsel Jeong Kyeong-doo sendiri seusai bertemu Esper menolak mengomentari angka-angka tersebut, dan secara diplomatis menyatakan, negaranya siap berbagi kontribusi sesuai “kebutuhan dan dalam jumlah yang masuk akal”.

Sebaliknya, Esper ketika ditanya pers menjelang lawatannya ke Korsel juga menolak menyatakan jumlah kontribusi yang diminta dari Korsel, kecuali menyebutkannya sebagai kenaikan substansial”.

Sementara dalam jumpa pers bersama yang digelar dengan mitra kerjanya, Kyeong-doo di Seoul (15/11), Esper mengaku, permintaan kenaikan kontribusi kerjasama pertahanan tidak hanya diberlakukan AS pada Korsel bagi mitra AS lainnya di seluruh dunia.

Besarnya porsi kontribusi biaya penempatan pasukan AS yang juga harus ditanggung Korsel sejak Perang Korea pada 1950 sampai 1953 menjadi ganjalan hubungan kedua negara karena ditentang publik negara ginseng itu.

Persoalannya, Seoul yang berada “sepelemparan batu” hanya beberapa puluh Km dari perbatasan Korut, rawan dari ancaman invasi atau serangan lawan seperti terjadi dalam Perang Korea lalu, walau Korsel bersama koalisi pimpinan AS kemudian berhasil memukul mundur musuh. (AP/Reuters/ns)