Ibu Mariyam, Sang Teman Penderita Kanker

698 views

Tubuh masih hendak lekat dengan buah hati, namun kematian telah tiba di pelupuk mata. Vonis kanker serviks yang dilayangkan oleh dokter, seakan membelah segalanya. Ketika itu, Ibu Mariyam (48) merasa terik tidak lagi memberikan hari. Bahkan ia lebih damai bersembunyi di balik pintu rumah sembari meratapi nestapa.

“Saya ini perempuan baik-baik,” tuturnya tersedu-sedu, tak percaya penyakit itu bersemayam dalam leher rahim.

Selama tiga puluh satu hari, ia mengalami datang bulan, merupakan awal hukuman mati dari ahli medis. Ia pun tak kuasa menyampaikan pilu yang tengah bertandang tersebut pada sang suami dan anak-anak. Ia hanya sendiri dan berteman air mata serta berpayah-payah menerima luka.

Menjelang akhir tahun 2012, tepat dua bulan berlalu, harapan hidup Ibu Mariyam semakin terkikis tangis. Kendati mata masih terbuka seperti sediakala, namun penglihatan terbatasi derita, begitu pula napas tak lebih dari menghirup sesak.

Hingga pada puncak putus asa, datang bulan yang tidak normal itu pun kembali menimpa. Sungguh ia tiada berdaya. Perlahan-lahan dalam setiap doa, ia mulai menerima dan berserah diri pada Sang Pencipta atas ketetapan-Nya. Diam-diam ia menelan lara sembari melepas peluk untuk tiga orang buah hatinya.

“Saya ikhlas menerima kehendak-Nya. Dan berharap, semoga Allah senantiasa merawat anak-anak yang saya tinggalkan.”

Entah mengapa dalam hati tebersit untuk memeriksa kembali kelainan haid tersebut. Ibu Mariyam pun menjalani berbagai tes oleh dokter yang berbeda dari sebelumnya. Alhasil, tidak ditemukan kanker serviks, sebuah penyakit yang telah mengubur kehidupannya.

Perasaan syukur dan campur aduk menyelimuti, seolah-olah cahaya mentari menyelinap dari celah-celah jendela rumah lalu membangunkan tidur panjangnya dan menawarkan hari. Ia menganggap bahwa Allah telah memberikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya.